Menu ✖

Mode Gelap
Dari Curhat ke Bupati, Anjar Bisa Kembali Lagi Bersekolah Kisah Inspiratif Taruna: Dari Penjual Cakwe hingga Pimpin Kantor Pusat Baba Parfume Indonesia Kuota 30 Peserta Terpenuhi, UKW SMSI Batu Bara Siap Digelar November’26 Resmi Dilantik Pengurus HIPKA Batu Bara Periode 2026–2031, Dorong Penguatan Ekonomi Daerah Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Anti Narkoba Bersinergi dengan Kapolres Batu Bara, Dukung Pemberantasan Narkoba Soroti Kesetaraan HPN dan Monopoli Penyelenggaraan, Firdaus Diberhentikan PWI

Lifestyle

On Cloudmonster 2: Sensasi Empuk dan Pantulan Maksimal, Tapi Tahan Berapa Lama?

Avatarbadge-check


					On Cloudmonster 2: Sensasi Empuk dan Pantulan Maksimal, Tapi Tahan Berapa Lama? Perbesar

Desir.id – Medan | On Cloudmonster 2 hadir sebagai sepatu lari dengan janji utama: bantalan tebal, sensasi pantulan eksplosif, dan pengalaman berlari yang terasa seperti “di atas awan”. Pada impresi pertama, sepatu ini memang memberikan efek bouncy yang sangat terasa. Setiap langkah menghadirkan sensasi energy return yang responsif seolah ada dorongan balik yang membantu transisi kaki menjadi lebih cepat dan ringan.

Dari sisi konstruksi, generasi kedua ini mengalami peningkatan signifikan pada bagian upper. Material double-stitched engineered mesh memberikan struktur yang lebih rapi sekaligus meningkatkan sirkulasi udara. Breathability terasa optimal, membuat kaki tetap sejuk bahkan saat digunakan dalam sesi lari jarak menengah. Kenyamanan awal sulit untuk dikritik fit terasa aman tanpa tekanan berlebih.

Di bagian midsole, kombinasi teknologi CloudTec® dengan busa Helion™ menjadi pusat performa sepatu ini. Tumpukan bantalan yang tebal berpadu dengan rongga khas di bagian outsole menciptakan sensasi seperti per dan suspensi saat fase toe off. Pada 80 hingga 95 mil pertama, performanya konsisten: sepatu terasa cepat, responsif, dan efisien dalam membawa pelari dari titik A ke B.

Namun, pertanyaan pentingnya adalah soal durabilitas performa. Memasuki jarak sekitar 100 mil pemakaian, karakter pantulan yang menjadi daya tarik utama mulai terasa berkurang. Efek “spring” yang awalnya dominan perlahan menghilang, berganti dengan sensasi bantalan yang lebih lembut namun kurang stabil. Analogi sederhananya: seperti berlari di atas kombinasi bantal dan pegas di awal terasa hidup, tetapi ketika pegasnya melemah, yang tersisa hanyalah empuk tanpa kontrol optimal.

Minimnya padding pada heel counter juga turut memengaruhi stabilitas jangka panjang. Ketika struktur midsole mulai kehilangan responsivitasnya, area tumit terasa kurang mengunci kaki secara maksimal. Rongga besar di bagian bawah midsole yang awalnya berkontribusi pada efek pantulan, dalam jangka waktu tertentu justru membuat pijakan terasa sedikit goyah.

Secara keseluruhan, On Cloudmonster 2 adalah sepatu dengan impresi awal yang sangat kuat: empuk, memantul, dan menyenangkan untuk tempo ringan hingga menengah. Namun, bagi pelari yang mengutamakan konsistensi performa di atas 100 mil, ada pertimbangan serius terkait daya tahan karakter bantalan dan stabilitasnya. Sepatu ini menawarkan pengalaman lari yang impresif di awal, tetapi mempertahankan “keajaiban awan” nya mungkin menjadi tantangan tersendiri dalam penggunaan jangka panjang.

Penulis: Bagas Prasetyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Air yang Tak Pernah Diam, dan Cerita INALUM yang Terus Tumbuh

30 April 2026 - 15:37 WIB

Galaxy Watch 5 vs Garmin Forerunner 265: Smartwatch Serbaguna atau Jam Lari Profesional?

27 Maret 2026 - 19:05 WIB

Rekomendasi Sepatu Lari: Adizero Takumi Sen 11, Senjata Speed untuk Race dan Interval

24 Februari 2026 - 20:44 WIB

Bandung BJB Tandamata Kalahkan Medan Falcons 3-0

17 Januari 2026 - 09:01 WIB

Penyempurnaan Format Distribusi Data BEI dukung Tren Positif Pasar

14 Januari 2026 - 08:58 WIB

Trending di Lifestyle