Menu

Mode Gelap
Review Good Luck, Have Fun, Don’t Die: Ambisi Satir AI Setengah Matang Review Iron Lung: Ketegangan Klaustrofobik di Dunia yang Tak Kenal Ampun Bukber INALUM: Dari Meja Kerja ke Meja Makan, Silaturahmi Jadi Energi Perusahaan Safari Ramadan INALUM: Dari Masjid Al Muttaqin hingga Santunan Anak Yatim Ramadan di Area Smelter: Insan INALUM Jaga Niat, K3 Tetap Prioritas Bukan Sidang, Tapi Silaturahmi: Kajari Batu Bara Kumpulkan Forkopimda di Meja Buka Puasa

Entertainment

Review Good Luck, Have Fun, Don’t Die: Ambisi Satir AI Setengah Matang

Avatarbadge-check


					Review Good Luck, Have Fun, Don’t Die: Ambisi Satir AI Setengah Matang Perbesar

Desir.id – Medan | Ada kalanya sebuah film terasa menjanjikan sejak menit pertama, seolah memberi sinyal bahwa kita akan diajak menyelami gagasan besar yang relevan dengan dunia saat ini. Film terbaru karya Gore Verbinski mencoba melakukan hal tersebut dengan menjadikan kecerdasan buatan sebagai pusat cerita. Dengan reputasi sutradara yang sebelumnya menghasilkan film-film atmosferik seperti The Ring (2002) dan A Cure for Wellness (2016), proyek ini terasa seperti peluang bagi Verbinski untuk kembali menghadirkan konsep aneh namun menggugah yang selama ini menjadi ciri khasnya.

Sayangnya, ambisi besar tersebut tidak sepenuhnya terwujud. Film ini memulai perjalanan dengan ide yang cukup menggoda, tetapi perlahan kehilangan arah hingga berakhir sebagai tontonan yang terasa berantakan.

Secara garis besar, film ini membangun kisah tentang masa depan yang dihantui dampak perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan yang mulai merembes ke hampir setiap aspek kehidupan manusia. Cerita bergerak melalui berbagai potongan waktu dan sudut pandang, memperlihatkan bagaimana teknologi yang awalnya dianggap sebagai alat justru berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit dipahami.

Di pusat cerita terdapat sosok misterius dari masa depan yang diperankan oleh Sam Rockwell, seorang pria eksentrik yang kehadirannya memicu berbagai rangkaian kejadian aneh. Sementara itu, lapisan emosional film banyak bertumpu pada karakter seorang ibu bernama Susan (Juno Temple), yang masih berusaha memproses kehilangan tragis dalam hidupnya. Kedua karakter ini menjadi pintu masuk film untuk membahas bagaimana manusia bereaksi terhadap tragedi sekaligus perubahan teknologi yang bergerak terlalu cepat.

Pada bagian awal, film ini terasa cukup tajam dalam menyinggung berbagai isu sosial yang dekat dengan realitas masa kini. Beberapa flashback yang diperlihatkan mencoba menggali dampak tragedi seperti penembakan sekolah yang sering kali hanya menjadi berita sesaat sebelum masyarakat beralih ke peristiwa berikutnya. Ada juga sentilan terhadap bagaimana generasi muda tumbuh dalam hubungan yang hampir tidak terpisahkan dari gadget mereka.

Pendekatan ini sebenarnya menarik. Verbinski tampak ingin menyoroti kecenderungan masyarakat modern yang sering kali gagal benar-benar merenungkan akar masalah dari tragedi yang terjadi. Sayangnya, potensi tersebut tidak berkembang secara konsisten.

Masalah mulai muncul ketika film berusaha memperluas dunianya dengan berbagai elemen yang terasa tidak sejalan dengan gagasan awal. Nada cerita yang tadinya cukup serius tiba-tiba disisipi humor yang terasa canggung dan cenderung gagal. Sejumlah karakter pendukung juga hadir tanpa kontribusi berarti selain menambah keramaian narasi.

Salah satu contoh paling aneh adalah kemunculan makhluk mirip kucing yang diciptakan oleh kecerdasan buatan. Ide ini mungkin dimaksudkan sebagai simbol dari kekuatan AI yang berkembang tanpa batas, tetapi cara penyajiannya justru membuat film terasa seperti kehilangan kendali atas konsepnya sendiri.

Di tengah kekacauan tersebut, penampilan Juno Temple menjadi salah satu elemen yang masih menyelamatkan pengalaman menonton. Ia berhasil menghadirkan emosi yang terasa nyata, terutama dalam menggambarkan seorang ibu yang berusaha memahami dunia yang tiba-tiba berubah drastis setelah tragedi pribadi. Dibandingkan karakter lain yang terasa datar, performanya memberikan kedalaman emosional yang sangat dibutuhkan film ini.

Menjelang babak akhir, film mencoba kembali ke nuansa misterius yang dibangun di awal melalui sebuah twist yang seharusnya mengejutkan. Namun eksekusinya terasa terburu-buru, seolah ide tersebut baru muncul di menit-menit terakhir tanpa persiapan yang cukup. Alih-alih memperkuat tema cerita, klimaks tersebut justru menegaskan betapa tidak konsistennya arah narasi film ini sejak pertengahan.

Secara teknis, film ini masih menunjukkan kualitas produksi yang solid. Efek visualnya terlihat rapi dan beberapa desain dunia distopianya cukup meyakinkan. Namun kualitas teknis tersebut tidak cukup untuk menutup kekurangan pada sisi penulisan cerita yang terasa penuh ide setengah matang.

Pada akhirnya, film ini terasa seperti kumpulan gagasan menarik yang tidak pernah benar-benar menemukan bentuk yang utuh. Di tangan sutradara dengan rekam jejak seperti Gore Verbinski, konsep tentang kecerdasan buatan dan masa depan manusia seharusnya bisa berkembang menjadi pengalaman sinematik yang jauh lebih menggugah. Yang tersisa justru rasa penasaran tentang seperti apa film ini seandainya semua potensinya benar-benar dimanfaatkan.

RATE: 5/10

Penulis: Arya Yudhistira Wicaksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Review Iron Lung: Ketegangan Klaustrofobik di Dunia yang Tak Kenal Ampun

14 Maret 2026 - 12:00 WIB

Dari Kuli Pasar ke Bos Konstruksi, Indra Setiawan Buktikan Sukses Itu Bukan Warisan

3 Maret 2026 - 20:56 WIB

Review Return to Silent Hill: Adaptasi Akurat atau Mengarang Bebas?

27 Februari 2026 - 08:05 WIB

Review 28 Years Later: Bone Temple, Eksplorasi Harapan di Dunia yang Hancur

24 Februari 2026 - 15:24 WIB

Review Stranger Things 5, Ketika Final Season Kehilangan Nyali

1 Januari 2026 - 14:05 WIB

Trending di Entertainment