Menu

Mode Gelap
Lelaki Itu Menanam Sebelum Ada yang Peduli Sebelum Laut Memakan Tanah Pemkab Asahan, Polres, dan PWI Main Bola Bareng, HUT Bhayangkara Jadi Ajang Perkuat Sinergi Bangun Kekompakan Jelang HUT Bhayangkara, Pemkab Asahan, Polres, dan PWI Asahan Adu Strategi di Lapangan Hijau Pemilik Akun Medsos Penyebar Hoaks Pimpinan DPRD Sumut Dipolisikan 8 Lokasi Tambang Ilegal di Galang Resmi Ditutup

News

Sebelum Laut Memakan Tanah

Avatarbadge-check


					Sebelum Laut Memakan Tanah Perbesar

Tidak ada suara keras, tidak ada peristiwa dramatis yang bisa dijadikan berita. Yang terjadi hanyalah air laut yang datang lebih jauh dari biasanya. Sedikit lebih jauh setiap tahun, sedikit lebih lama setiap musim. Pohon-pohon bakau yang dulu menjadi batas antara laut dan daratan perlahan menghilang sebagian ditebang untuk kayu bakar, sebagian mati karena dibiarkan dan ketika pohon-pohon itu pergi, tidak ada yang menghalangi air.

Di sepanjang pantai timur Sumatera Utara, cerita ini sudah berlangsung lama. Hutan mangrove yang dulu tebal beratus-ratus meter kini menipis menjadi selebar jalan setapak. Di beberapa desa di Kabupaten Deli Serdang, nelayan yang hidupnya bergantung pada laut kini menghadapi masalah yang mereka tidak tahu cara menyebutnya: tanah tempat mereka berpijak semakin kecil, dan laut semakin dekat.

Abrasi bukan kata yang sering muncul di percakapan warung kopi. Tapi ia adalah kenyataan yang paling diam-diam merusak kehidupan orang-orang yang tinggal di pesisir.

Mangrove adalah satu-satunya hal yang bisa menghentikannya. Bukan tembok beton, bukan tumpukan batu. Akar-akar bakau yang menjalar ke dalam lumpur itu yang sesungguhnya mengikat tanah, meredam gelombang, dan memberi ruang bagi lumpur baru untuk mengendap dan membangun daratan. Pohon yang tidak mencolok, tidak berbunga indah, tidak punya aroma yang harum tapi ia yang berdiri di garis terdepan, setiap hari, diam-diam menahan sesuatu yang kalau dibiarkan, tidak akan ada yang bisa menghentikannya.

Aku memikirkan ini ketika membaca sebuah angka yang pada awalnya terasa dingin dan teknis: 871,9 ton CO2 per hektar per tahun. Itu adalah kemampuan serapan karbon mangrove lebih besar dari hampir semua jenis hutan darat yang kita kenal. Tapi lebih dari angka itu, yang aku pikirkan adalah apa yang ada di baliknya. Setiap pohon mangrove yang tumbuh, setiap akar yang menjalar, setiap daun yang gugur ke air dan terurai menjadi bahan organik di dasar lumpur semuanya adalah kerja yang tidak pernah berhenti, yang tidak pernah meminta pengakuan, dan yang hasilnya baru terasa setelah bertahun-tahun.

Di Kabupaten Batu Bara, ada kawasan bernama Pantai Sejarah di Desa Perupuk yang pernah hampir kehilangan semua itu. Mangrovenya gundul. Airnya kotor. Tanahnya mulai dimakan laut. Dan tidak banyak yang peduli kecuali seorang pria bernama Azizi yang pada suatu malam mencari kepiting di pantai dan tidak tahan melihat apa yang dilihatnya. Sejak 2002, ia menanam bakau sendirian. Tidak ada dana, tidak ada program, tidak ada nama besar yang mendukungnya. Hanya tangan dan bibit yang ia minta dari dinas kehutanan, dan tekad yang sulit dijelaskan dengan kata-kata yang rapi.

Dua puluh tahun lebih kemudian, Inalum datang bukan untuk memimpin, tapi untuk bergabung. Sejak 2014, perusahaan mulai mendukung konservasi mangrove di pesisir Batu Bara. Sejak 2022 hingga 2024 saja, sudah 114.250 bibit mangrove ditanam di area seluas 22,9 hektar di Kabupaten Batu Bara. Total selama program ini berjalan, lebih dari 51.000 bibit bakau jenis Rhizophora Stylosa sudah tertancap di lumpur pesisir ini, dan kawasan mangrove yang dikonservasi mencakup 20 hektar.

Angka itu tidak akan terasa bermakna kalau kita tidak tahu apa yang terjadi setelah bibit-bibit itu tumbuh. Garis pantai yang dulu mundur kini punya sesuatu yang menahannya. Ikan-ikan yang dulu tidak punya tempat bertelur kini memiliki labirin akar yang gelap dan terlindung. Udang dan kepiting yang jadi sumber pendapatan nelayan punya ruang untuk tumbuh sebelum mereka pergi ke laut lepas. Dan lumpur yang dulu hanyut dibawa ombak kini tertahan oleh jalinan akar yang semakin rapat setiap musimnya.

Di kawasan Batubara Mangrove Park yang tumbuh dari lahan mangrove yang dipulihkan itu, ada ibu-ibu yang belajar membatik dengan motif bunga mangrove. Ada nelayan yang beralih mengelola kolam ikan dalam terpal tanpa merusak ekosistem mangrove di sekitarnya sebuah metode yang disebut silvofishery, memancing dan menjaga sekaligus. Ada lebih dari 40 orang yang kini punya pekerjaan tetap sebagai pengelola kawasan. Ada 70 UMKM yang hidupnya bergantung bukan pada penebangan pohon, tapi pada keberadaan pohon itu sendiri.

Inilah yang paling mengubah caraku berpikir tentang mangrove. Ia bukan sekadar pohon yang melindungi pantai. Ia adalah fondasi dari satu ekosistem ekonomi yang berbeda di mana orang-orang tidak perlu memilih antara menghidupi diri dan menjaga alam, karena keduanya ternyata bisa tumbuh dari akar yang sama.

Pada Juli 2025, Inalum bersama Grup MIND ID memperluas langkah ini bergabung dalam aksi penanaman mangrove serentak di Kalimantan Barat, sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi yang lebih luas. Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, menyebutnya sebagai “warisan hijau yang dirasakan manfaatnya oleh generasi mendatang.” Kalimat yang mudah terdengar seperti retorika perusahaan tapi sulit untuk mengabaikannya ketika kita tahu bahwa di Batu Bara, apa yang dimulai puluhan tahun lalu oleh seorang pria yang tidak punya jabatan apa pun kini benar-benar menjadi warisan yang bisa dilihat, dipegang, dan dirasakan manfaatnya setiap hari.

Aku kembali ke bayangan mangrove yang berdiri di tepi laut. Pohon yang tidak bersuara, tidak minta perhatian, tidak kelihatan heroik dari luar. Akarnya sebagian terendam air, sebagian mencengkeram lumpur, bergerak tidak ke mana-mana tapi menahan segalanya.

Ada jenis pekerjaan di dunia ini yang tidak pernah selesai dan tidak pernah cukup terlihat. Pekerjaan yang tidak punya tenggat waktu, tidak punya akhir yang bisa dirayakan, tidak punya momen kemenangan yang dramatis. Pekerjaan yang kalau ditinggalkan sebentar saja, laut akan mengambil tanah itu kembali, pelan-pelan, tanpa suara, seperti ia pernah melakukannya sebelum seseorang memutuskan untuk berdiri di sana dan mencegahnya.

Mangrove melakukan pekerjaan itu setiap hari. Dan orang-orang yang memilih untuk menanam, merawat, dan menjaganya Azizi, para nelayan yang beralih ke silvofishery, ibu-ibu yang belajar membatik, tim yang turun ke lumpur dengan bibit di tanganmereka adalah orang-orang yang memilih untuk berdiri di garis itu bersama pohon yang paling tidak mencolok di dunia. 

Benteng yang paling kuat tidak selalu yang paling terlihat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Lelaki Itu Menanam Sebelum Ada yang Peduli

30 Juni 2026 - 15:17 WIB

Pemkab Asahan, Polres, dan PWI Main Bola Bareng, HUT Bhayangkara Jadi Ajang Perkuat Sinergi

29 Juni 2026 - 12:18 WIB

Bangun Kekompakan Jelang HUT Bhayangkara, Pemkab Asahan, Polres, dan PWI Asahan Adu Strategi di Lapangan Hijau

29 Juni 2026 - 12:14 WIB

Pemilik Akun Medsos Penyebar Hoaks Pimpinan DPRD Sumut Dipolisikan

29 Juni 2026 - 12:03 WIB

8 Lokasi Tambang Ilegal di Galang Resmi Ditutup

26 Juni 2026 - 19:15 WIB

Trending di News