Menu

Mode Gelap
Review Supergirl: Adaptasi yang Gagal Memahami Komiknya Jadikan Panggung APEKSI Klaim Keberhasilan Bangun Medan, Sikap Bobby Nasution Justru Dikritik Publik  Saktiawan Sinaga Dorong Talenta Muda Bersinar, Assasin FC Gelar Turnamen Sepak Bola Usia Dini Di Momen 80 Tahun Deli Serdang dan Bhayangkara, Bupati Hadiahkan Fery Kusnadi Penghargaan Bupati Ajak Perkuat Kolaborasi dan Semangat Melayani pada HUT ke-80 Kabupaten Deli Serdang Di Sidang Paripurna Istimewa HUT ke-80, Bupati Sampaikan Kemajuan Deli Serdang di Berbagai Sektor

Entertainment

Review Supergirl: Adaptasi yang Gagal Memahami Komiknya

Avatarbadge-check


					Review Supergirl: Adaptasi yang Gagal Memahami Komiknya Perbesar

Desir.id – Medan | Juli tahun lalu menjadi titik awal yang begitu menjanjikan bagi mulainya DCU di layar lebar. Superman (2025) berhasil melakukan sesuatu yang sudah lama dibutuhkan karakternya, yaitu mengembalikan sepenuhnya esensi sang Man of Steel beserta mitologi yang mengelilinginya. Heroisme, optimisme, dan harapan kembali menjadi fondasi utama semesta baru ini. Karena itulah, Supergirl datang dengan ekspektasi yang tinggi. Sayangnya, alih-alih melanjutkan momentum tersebut, film ini justru menjadi langkah mundur yang cukup mengecewakan.

Disutradarai Craig Gillespie dan ditulis Ana Nogueira sebagai film kedua dalam semesta baru DC setelah Superman (2025), Supergirl mengadaptasi komik Supergirl: Woman of Tomorrow, salah satu kisah Supergirl paling dipuji dalam beberapa tahun terakhir. Tantangannya sebenarnya sudah jelas sejak awal. Komik tersebut bukan sekadar kisah superhero yang memburu penjahat antargalaksi, melainkan perjalanan emosional yang menggunakan petualangan kosmik sebagai medium untuk membahas kehilangan, kemarahan, proses penyembuhan, dan pilihan moral. Sayangnya, adaptasi ini justru lebih tertarik menyederhanakan gagasan-gagasan tersebut dibanding menggali kedalamannya.

Ceritanya mengikuti Kara Zor-El (Milly Alcock), yang memutuskan membantu Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley), seorang gadis muda yang bertekad membalas dendam kepada Krem (Matthias Schoenaerts), pembunuh keluarganya. Perburuan itu membawa mereka menjelajahi berbagai penjuru galaksi, mempertemukan keduanya dengan beragam situasi yang seharusnya mengubah cara mereka memandang rasa kehilangan dan balas dendam. Di sela perjalanan tersebut, film juga menyisipkan kilas balik kehidupan Kara di Krypton hingga momen kedatangannya di Bumi dan pertemuan pertamanya dengan Clark Kent.

Justru bagian inilah yang menjadi kekuatan terbesar film. Milly Alcock akhirnya memperoleh ruang yang jauh lebih luas dibanding penampilan singkatnya di Superman. Jika sebelumnya Kara lebih terasa dan berguna sebagai aspek komedi, kali ini ia tampil sebagai sosok yang masih dibayangi trauma kehancuran Krypton, terus merindukan rumah yang telah hilang, namun tetap berusaha hidup berdasarkan nilai-nilai yang diwariskan kedua orang tuanya.

Seluruh adegan yang berlatar di Krypton terasa seperti perluasan dunia yang sangat alami. Hubungan Kara dan Clark memperoleh fondasi emosional yang jauh lebih kuat karena film memberikan konteks yang sebelumnya belum pernah diperlihatkan. Chemistry keduanya menjadi lebih mudah dipercaya, sekaligus memberikan gambaran menarik mengenai dinamika mereka pada film-film DC berikutnya.

Masalahnya, semua hal menarik tersebut hanya muncul di pinggir cerita. Begitu film kembali ke alur utama, kualitasnya langsung menurun cukup drastis. Naskah terasa belum matang sehingga hubungan sebab akibat antar keputusan karakter sering kali tidak meyakinkan. Ritme penceritaan pun kehilangan arah, membuat perjalanan panjang Kara dan Ruthye terasa berjalan tanpa perkembangan emosional yang benar-benar berarti.

Ruthye seharusnya menjadi jendela bagi penonton untuk memahami Kara, persis seperti perannya dalam komik. Namun versi film gagal membangun fungsi tersebut. Eve Ridley sebenarnya tampil cukup baik, tetapi materi yang ia peroleh terasa terlalu generik. Dialog maupun perkembangan karakternya tidak pernah memberi kesan bahwa ia dan Kara perlahan membangun ikatan yang lahir dari pengalaman kehilangan yang sama. Hubungan mereka bergerak dari awal hingga akhir tanpa pernah mencapai titik emosional yang membuat penonton benar-benar peduli.

Krem juga mengalami persoalan serupa. Film berusaha mengubahnya menjadi sosok antagonis besar dengan tampilan desain baru yang berlebihan dan latar belakang yang lebih dramatis. Ironisnya, keputusan itu justru menghilangkan alasan mengapa karakter ini begitu efektif di komiknya. Sebelumnya ia hanyalah perompak picik yang menyebalkan dan sangat tidak layak menghabiskan hidup seseorang untuk dibenci. Kesederhanaan itulah yang memperkuat pesan mengenai sia-sianya obsesi terhadap balas dendam. Ketika film memilih menjadikannya sosok yang jauh lebih mengancam, tema tersebut ikut kehilangan daya gigitnya.

Adaptasi ini juga memangkas banyak momen kecil yang sebenarnya menjadi fondasi perjalanan emosional kedua karakter utama. Berbagai korban lain yang pernah disakiti Krem, masing-masing dengan cara mereka sendiri menghadapi rasa kehilangan, hampir sepenuhnya dihilangkan. Padahal melalui pertemuan-pertemuan itulah Ruthye belajar melihat belas kasih Kara dan perlahan memahami bahwa balas dendam tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka.

Skala semesta kosmiknya pun terasa mengecil. Komiknya menghadirkan galaksi yang aneh, penuh warna, dan dipenuhi karakter-karakter unik di setiap planet yang disinggahi. Namun filmnya justru menghadirkan dunia yang terasa terlalu familiar, bahkan beberapa bagiannya terlalu mengingatkan pada formula petualangan luar angkasa ala Guardians of the Galaxy. Banyak planet dan karakter alien menarik menghilang begitu saja. Bahkan sekuens kejar-kejaran bersama Comet the Super-Horse yang semestinya menjadi salah satu bagian klimaks paling seru sama sekali tidak dihadirkan.

Kemunculan Lobo (Jason Momoa) menghadirkan kesan yang sama membingungkannya. Sulit membantah bahwa Momoa merupakan pilihan casting yang sangat tepat. Ia terlihat benar-benar menikmati setiap kemunculannya sebagai karakter tersebut. Namun di luar pesonanya, Lobo nyaris tidak memiliki fungsi penting dalam cerita. Kehadirannya lebih sering terasa sebagai penyelamat dadakan ketika Kara dan Ruthye menemui jalan buntu, sehingga lebih menyerupai fan service dibanding bagian penting dari narasi. Dari sisi visual, memang ada beberapa efek CGI pada babak ketiga yang terlihat kurang meyakinkan. Namun itu bahkan bukan persoalan terbesar film ini. Kekecewaan terhadap adaptasinya jauh lebih sulit diabaikan dibanding kualitas efek visual yang naik turun.

Puncak masalah muncul pada penutup cerita. Perubahan terbesar yang dilakukan film justru menunjukkan betapa kurang dipahaminya esensi komik aslinya. Dengan mengubah klimaks, film menghilangkan perjalanan moral Ruthye yang seharusnya menjadi inti emosional cerita. Padahal, komiknya tidak pernah mengatakan bahwa kemarahan atau kebencian adalah sesuatu yang salah. Sebaliknya, cerita tersebut mengakui bahwa perasaan itu sepenuhnya manusiawi. Pesan utamanya adalah setiap orang tetap memiliki pilihan untuk tidak membiarkan kebencian mengubah dirinya menjadi sosok yang sama buruknya dengan orang yang telah menyakitinya. Keputusan itu seharusnya lahir dari Ruthye sendiri setelah menyaksikan kasih sayang Kara sepanjang perjalanan mereka. Namun, ketika momen tersebut dialihkan kepada Kara, penyelesaian karakter Ruthye hilang dan keseluruhan pesan cerita pun ikut runtuh.

Pada akhirnya, film ini memang masih memiliki beberapa hal yang layak diapresiasi. Penampilan Milly Alcock berhasil membuat Kara Zor-El terasa menjanjikan sebagai salah satu karakter penting DCU, sementara seluruh kilas balik di Krypton menjadi tambahan yang benar-benar memperkaya dunianya. Namun semua itu belum cukup menyelamatkan sebuah adaptasi yang gagal menangkap jiwa komiknya. Alih-alih menghadirkan kisah yang menyentuh tentang penyembuhan dan keberanian untuk melepaskan kebencian, Supergirl justru menyisakan petualangan yang terasa hampa dan kehilangan alasan mengapa Woman of Tomorrow begitu dicintai sejak pertama kali diterbitkan.

RATE: 6/10

Penulis: Arya Yudhistira Wicaksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Review Badut Gendong: Antitesis yang Dibutuhkan Qodrat-Verse

1 Juni 2026 - 18:45 WIB

Review Project Hail Mary: Film Sci-Fi Terbaik Setelah Interstellar?

10 April 2026 - 14:01 WIB

Review Na Willa: Hangatnya Masa Kecil dalam Bingkai Parenting yang Jujur

27 Maret 2026 - 17:45 WIB

Review Good Luck, Have Fun, Don’t Die: Ambisi Satir AI Setengah Matang

14 Maret 2026 - 13:35 WIB

Review Iron Lung: Ketegangan Klaustrofobik di Dunia yang Tak Kenal Ampun

14 Maret 2026 - 12:00 WIB

Trending di Entertainment