Desir.id – Medan | Setelah kesuksesan Jumbo (2025), film ini seakan menjadi pembuktian bahwa Ryan Adriandhy telah menemukan cara paling tepat untuk menyajikan cerita anak-anak dengan pendekatan yang terasa genuine dan dekat, tanpa perlu melebih-lebihkan emosi ataupun memaksakan pesan. Ia memahami bahwa dunia anak tidak harus disederhanakan, melainkan cukup disampaikan dengan kejujuran dan kepekaan.
Mengadaptasi serial novel Na Willa khususnya Na Willa: Serial Catatan Kemarin karya Reda Gaudiamo, film ini membawa kita ke Surabaya era 1960-an dengan nuansa yang terasa hidup dan personal. Tak hanya sekedar mengadaptasi, film ini juga merupakan sebuah upaya merawat memori masa kecil dengan segala kepolosan, kebingungan, dan rasa ingin tahu yang menyertainya.
Ceritanya berpusat pada Na Willa (Luisa Adreena), seorang anak perempuan berusia enam tahun yang tumbuh di lingkungan Gang Krembangan. Kehidupannya dikelilingi oleh orang-orang yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia, mulai dari Mak (Irma Rihi), sosok ibu yang penuh kasih, hingga Mbok (Mbok Tun), pengasuh yang kehadirannya terasa begitu menenangkan. Di luar rumah, Willa menghabiskan waktunya bersama teman-temannya seperti Farida (Freya Mikhayla), Bud (Ibrahim Arsenio), dan Dul (Azamy Syauqi). Melalui interaksi sehari-hari yang tampak sederhana, film ini perlahan membuka berbagai lapisan pengalaman yang jauh lebih kompleks.
Alih-alih membangun konflik besar secara konvensional, narasi film ini bergerak seperti cerita slice of life. Ia menyinggung berbagai isu yang sebenarnya cukup berat, mulai dari kecelakaan yang mengubah hidup seseorang, praktik pernikahan dini, rasisme, perbedaan keyakinan, hingga pentingnya kejujuran dalam hubungan antar manusia. Menariknya, semua itu disampaikan dari sudut pandang anak-anak, sehingga terasa ringan tanpa kehilangan makna. Penonton diajak memahami, bukan diberi tahu. Ada proses bertumbuh yang berjalan seiring dengan rasa penasaran Willa, seolah kita ikut duduk di antara mereka, mendengar, mengamati, dan perlahan mengerti.
Kekuatan pendekatan ini tidak lepas dari cara penyutradaraan Ryan Adriandhy yang mampu menangkap sensibilitas anak-anak tanpa menjadikannya artifisial. Dialog terasa natural, interaksi mengalir tanpa kesan dibuat-buat, dan dinamika pertemanan yang ditampilkan benar-benar hidup. Luisa Adreena menjadi pusat dari semua itu. Penampilannya sebagai Willa terasa tulus, penuh energi, dan tidak pernah jatuh ke jebakan karakter anak yang terdengar terlalu “dewasa”. Ia bermain seperti anak-anak pada umumnya, dengan spontanitas yang sulit direkayasa.
Di sisi lain, Irma Rihi sebagai Mak memberikan lapisan emosi yang lebih tenang namun kuat. Karakternya menjadi fondasi penting bagi perjalanan Willa. Relasinya dengan Pak (Junior Liem), yang sebagian besar terjalin melalui surat karena Pak yang jarang di rumah karena pekerjaan, justru menghadirkan kehangatan yang sederhana namun membekas. Ada rasa kepercayaan dan kasih sayang yang terasa tanpa perlu banyak ditunjukkan secara eksplisit.
Film ini juga menawarkan refleksi menarik tentang parenting. Ia menempatkan orang tua sebagai ruang pertama bagi anak untuk memahami dunia, bukan hanya sebagai pengarah, tetapi juga sebagai pendamping yang memberi kepercayaan. Ada keseimbangan antara membimbing dan memberi ruang, sesuatu yang jarang diangkat dengan sepeka ini dalam film bertema anak, terlebih lagi di Indonesia.
Secara visual, film ini tampil menawan. Sinematografinya memanfaatkan palet warna hangat dengan sentuhan vintage yang konsisten, memperkuat latar waktu yang diusung. Desain produksinya terasa detail dalam merekonstruksi Surabaya tahun 60-an, menciptakan dunia yang terasa autentik sekaligus sedikit magis melalui sudut pandang Willa. Salah satu momen yang paling mencuri perhatian hadir dalam sekuens musikal “Sikilku Iso Muni”, yang bukan hanya menyenangkan secara visual, tetapi juga memperlihatkan bagaimana imajinasi anak dapat mengubah realitas menjadi sesuatu yang lebih luas dan penuh warna.
Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya tanpa cela. Struktur ceritanya yang cenderung linear sempat menghadirkan pergeseran ritme yang cukup terasa. Setelah sekuens musikal tersebut, yang sudah terasa begitu klimaks dan hampir konklusif, bagian berikutnya sedikit kehilangan momentum. Seolah film ini sempat berganti arah sebelum kembali menemukan pijakannya. Namun, hal ini tidak sampai merusak keseluruhan pengalaman menonton.
Pada akhirnya, film ini tetap berdiri sebagai sebuah karya yang hangat dan tulus, sebuah pengingat bahwa dunia anak-anak tidak pernah sesederhana yang terlihat. Ryan Adriandhy kembali menunjukkan kemampuannya dalam merangkai cerita yang dekat dengan kehidupan. Setelah pencapaian ini, rasanya wajar jika muncul harapan untuk melihat lebih banyak cerita lain yang lahir dari tangannya.
RATE: 9/10
Penulis: Arya Yudhistira Wicaksono












