Desir.id – Medan | Setelah kesuksesan Interstellar (2014) lebih dari satu dekade lalu, rasanya tidak banyak film hard sci-fi yang benar-benar mampu menghadirkan pengalaman yang tangible sekaligus menyentuh secara emosional. The Martian (2015) sempat mengisi ruang itu melalui pendekatan yang serupa sebagai adaptasi novel, tetapi itu pun kini sudah terasa cukup jauh jaraknya. Di tengah kekosongan tersebut, film ini hadir sebagai proyek yang telah dinantikan, membawa kembali sensasi fiksi ilmiah yang tidak hanya berakar pada sains, tetapi juga pada pengalaman manusia yang sangat personal.
Film ini merupakan adaptasi dari novel hard sci-fi populer karya Andy Weir yang dikenal dengan pendekatannya yang detail dan berbasis sains. Namun alih-alih tenggelam dalam kompleksitas teknis semata, film ini justru memilih jalur yang lebih intim. Skala ceritanya memang menyangkut nasib umat manusia, tetapi cara penyampaiannya terasa lebih tenang, lebih fokus, dan tidak terjebak dalam kebutuhan untuk selalu terlihat megah.

Ceritanya mengikuti Dr. Ryland Grace (Ryan Gosling), seorang ilmuwan yang terbangun sendirian di dalam pesawat luar angkasa Hail Mary tanpa ingatan yang utuh tentang misinya. Seiring waktu, potongan memorinya mulai kembali, mengungkap alasan di balik keberadaannya di sana serta ancaman besar yang sedang dihadapi Bumi. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Rocky, makhluk asing berbentuk batu yang datang dari peradaban lain dengan tujuan yang tidak jauh berbeda. Dari pertemuan yang terasa tidak mungkin itu, tumbuh sebuah relasi yang menjadi inti emosional film ini.
Grace bukan tipe protagonis yang langsung terasa heroik. Ia cenderung meragukan dirinya sendiri, sering kali meremehkan kemampuannya, dan terlihat seperti orang biasa yang kebetulan berada dalam situasi luar biasa. Di sinilah performa Ryan Gosling terasa begitu tepat. Ia membawa sisi self-deprecating yang natural, membuat karakter ini terasa sangat relatable, seperti representasi dari banyak orang yang sebenarnya punya potensi besar tetapi tidak pernah benar-benar yakin dengan dirinya sendiri.

Lapisan lain yang menarik adalah bagaimana film ini menyentuh tema male loneliness secara halus. Kesendirian Grace di luar angkasa terasa sebagai perpanjangan dari isolasi emosional yang sudah ia rasakan sebelumnya. Kehadiran Rocky perlahan mengubah dinamika itu. Interaksi mereka mungkin sederhana, bahkan canggung, tetapi justru di situlah kekuatannya. Film ini menempatkan komunikasi dan pemahaman sebagai sesuatu yang krusial, terutama ketika dua makhluk yang sepenuhnya berbeda dipaksa bekerja sama demi bertahan hidup.
Struktur non-linear yang digunakan juga memberi warna tersendiri. Perpindahan antara masa lalu dan masa kini terasa terencana dan memiliki resonansi emosional yang jelas. Perbedaan tone visual antara setiap adegan flashback yang terasa dreamy dan adegan masa kini yang lebih clean juga berhasil menciptakan kontras yang jelas. Meski di beberapa bagian menjelang akhir ada flashback yang terasa sedikit memperlambat ritme, secara keseluruhan struktur ini tetap membantu membangun perjalanan karakter Grace dengan utuh.

Dari sisi teknis, pendekatan yang diambil terasa menyegarkan. Phil Lord dan Christopher Miller selaku sutradara menghindari ketergantungan penuh pada green screen bahkan sama sekali menolak penggunaannya dan memilih set praktikal, pencahayaan LED, serta penggunaan puppetry untuk menghadirkan elemen-elemen penting dalam film, termasuk Rocky. Hasilnya terasa lebih nyata dan imersif, membuat dunia yang ditampilkan benar-benar memiliki bobot fisik. Ditambah lagi dengan dukungan sinematografi dari Greig Fraser yang sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam merealisasikan visual megah sebuah cerita.
Musik dari Daniel Pemberton juga mendukung pendekatan tersebut dengan sangat baik. Alih-alih terdengar bombastis, scoring-nya justru terasa intim dan reflektif, namun tetap mampu menghadirkan rasa takjub ketika film memasuki momen-momen eksplorasi luar angkasa.
Pada akhirnya, film ini berhasil tanpa harus bergantung pada skala ceritanya yang besar, tetapi karena konsistensinya untuk tetap fokus pada hal-hal kecil yang terasa manusiawi. Ia berbicara tentang harapan, tentang keinginan untuk memahami dan dipahami, serta tentang bagaimana seseorang bisa menemukan keberanian di tengah keraguan dirinya sendiri. Sebuah pengalaman hard sci-fi yang tidak hanya cerdas secara konsep, tetapi juga hangat secara emosional. Mengutip line ikonik dari Rocky, film ini “Amaze, amaze, amaze” dari awal hingga akhir.
RATE: 9/10
Penulis: Arya Yudhistira Wicaksono












