Menu

Mode Gelap
Batang Patah di Tanah Rantau: Membaca Ulang Randai dalam Spirit Urban Kontemporer Dari Lima Puluh ke Puncak Podium: Edo Teddy “Ngebut Rapi” di Motoprix Sumut 2026 Air yang Tak Pernah Diam, dan Cerita INALUM yang Terus Tumbuh Reses Mangihut Sinaga Berbuah Nyata, Traktor Turun ke Desa Gajah dan Sukajadi Polres Batu Bara Raih Peringkat Pertama IKPA Nasional, Bukti Kinerja Solid Bandar Kocar-kacir, SMSI Apresiasi Polda Sumut Makin Gencar Berantas Narkoba di 2026

Daerah

Ribuan Ojol Medan Padati Kantor Gubsu, Protes Tarif Tak Masuk Akal

Avatarbadge-check


					Ribuan Ojol Medan Padati Kantor Gubsu, Protes Tarif Tak Masuk Akal Perbesar

Desir.id – Medan | Ribuan driver ojek online (ojol) memadati Jalan Imam Bonjol, Kota Medan, pada Selasa (20/5/2025). Aksi unjuk rasa ini merupakan bentuk protes keras terhadap kebijakan aplikator yang dinilai merugikan mitra pengemudi.

Dalam orasinya, para pengemudi ojol menuntut Presiden RI dan Menteri Perhubungan untuk memberikan sanksi tegas kepada perusahaan aplikasi yang melanggar regulasi pemerintah, seperti Permenhub PM No.12 Tahun 2019 dan Kepmenhub KP No.1001 Tahun 2022.

Mereka juga mendesak Komisi V DPR RI menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) gabungan bersama Kementerian Perhubungan, asosiasi aplikator, serta perwakilan pengemudi. Tuntutan utama meliputi pemotongan aplikasi sebesar 0%, revisi tarif penumpang, serta penghapusan fitur seperti aceng, slot, hemat, dan prioritas yang dianggap merugikan.

Salah seorang pengemudi yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya terhadap program “Bike Hemat Prabayar”. Dalam skema tersebut, setiap driver yang berhasil menyelesaikan 7 order harus membayar Rp15.000.

“Dua bulan lalu, para ketua komunitas sudah kumpulkan kami untuk bahas ini. Kami jelas tidak setuju. Tapi programnya tetap dipaksakan oleh pihak Grab,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain sulitnya mendapatkan orderan, para driver juga dipaksa mendaftar fitur hemat. Jika tidak, layanan Grab Bike Hemat tidak akan muncul di aplikasi mereka. Hal ini tentu mengurangi peluang mereka untuk mendapatkan penghasilan.

Tak hanya itu, pendapatan para driver juga terus menurun. Sistem “slot” yang biasa memberikan penghasilan Rp7.200 per order kini hanya sekitar Rp6.200. Penurunan ini dirasakan sangat membebani, terlebih saat biaya operasional terus meningkat.

Para pengemudi juga menuntut penetapan tarif layanan makanan dan pengiriman barang secara adil. Mereka meminta agar regulasi ini melibatkan semua pihak, termasuk asosiasi pengemudi, regulator, aplikator, dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Retribusi Diduga “Bolong”, Pansus PAD DPRD Batu Bara Sidak PT Kuala Gunung: Operasional Bisa Disetop

9 Maret 2026 - 23:58 WIB

BBM Lagi Sensitif, Jerigen Tetap Dilayani: SMSI Batu Bara Angkat Suara

7 Maret 2026 - 18:44 WIB

Jelang Anniversary, Gratamec Medan Perkuat Soliditas Lewat Buka Puasa Bersama

6 Maret 2026 - 19:00 WIB

Isu “Tiket Masuk” Honorer Rp30–40 Juta, Aktivis Desak Kejatisu Periksa Kadisdik Labura

6 Maret 2026 - 05:27 WIB

Dana Desa Rp1,6 Miliar Dipersoalkan, Mahasiswa Desak Polda Sumut Periksa Kades Simpang Empat

6 Maret 2026 - 05:21 WIB

Trending di Daerah