Menu

Mode Gelap
Satresnarkoba Batu Bara Ajak Pers Main Tim, Narkoba Diserbu dari Layar ke Lapangan Memahami Profil Risiko Agar Strategi Investasi Optimal Enam Proyek Sekaligus, Danantara Gaspol Hilirisasi US$ 7 Miliar Enam Proyek Sekaligus, Danantara Gaspol Hilirisasi US$ 7 Miliar Iklan Lari ke Medsos, PHK Awak Media Merebak: Dewan Pers Ingatkan Peran Pers Tetap Vital AI Lagi Ngebut, Menkomdigi Ingatkan Ini Di HPN 2026. Apa Saja?

Entertainment

Review IT: Welcome to Derry, Asal-Usul Pennywise dan Sejarah Kelam Kota Derry

badge-check


					Review IT: Welcome to Derry, Asal-Usul Pennywise dan Sejarah Kelam Kota Derry Perbesar

Serial prekuel ini menjadi salah satu contoh langka bagaimana sebuah perluasan semesta justru mampu melampaui film-filmnya, terutama dalam hal pendalaman cerita dan eksplorasi lore. Alih-alih sekadar menjadi pelengkap, serial ini dengan percaya diri memperluas dunia yang sudah mapan, sekaligus mengaitkannya secara lebih luas dengan semesta Stephen King. Ambisi tersebut terasa terbayar, sampai rasanya wajar jika penulis langsung ingin menonton ulang serial ini begitu selesai.

Keraguan sebenarnya muncul sejak awal. Trailer-nya memberi kesan bahwa cerita akan kembali mengulang formula yang sudah familiar dari film, dengan sekelompok anak menghadapi ancaman Pennywise, mengingatkan pada dinamika Losers Club. Namun kesan itu runtuh seketika sejak episode pertama. Serial ini langsung menetapkan nada yang jauh lebih brutal dan tanpa kompromi, terutama dalam caranya memperlakukan karakter. Berlatar tahun 1960-an, cerita tidak ragu mengangkat kecemasan era tersebut, mulai dari ketakutan akan perang nuklir hingga rasisme, yang semuanya dibahas dengan bobot yang nyata dan tanpa upaya melunakkan dampaknya.

Salah satu kekuatan utama serial ini terletak pada eksplorasinya terhadap masa lalu kota Derry itu sendiri. Melalui berbagai peristiwa penting yang berkaitan langsung dengan kehadiran Pennywise, serial ini memperlakukan Derry bukan sekadar latar, melainkan entitas hidup yang turut membentuk horor di dalamnya. Fokus utama musim ini jatuh pada tragedi pembantaian klub malam Black Spot, sebuah peristiwa kelam yang tidak hanya memperkaya sejarah kota, tetapi juga memperjelas pola kekerasan yang terus berulang setiap kali entitas tersebut bangkit. Dari sinilah serial mulai memberi konteks yang lebih dalam mengenai asal-usul Pennywise, termasuk latar belakang mengapa entitas yang kelak dikenal sebagai Pennywise memilih wujud badut sebagai bentuk utamanya, sebuah simbol yang tampak jenaka di permukaan, namun dirancang untuk memancing rasa aman sebelum akhirnya berubah menjadi teror.

Koneksi serial ini dengan kisah Stephen King lain, khususnya The Shining melalui karakter Dick Hallorann, terasa alami dan fungsional. Hubungan tersebut tidak hadir sebagai fan-service semata, melainkan berperan penting dalam mengurai misteri dan konflik yang terus berkembang. Performa Chris Chalk benar-benar berhasil menggambarkan sosok yang terus dihantui oleh kemampuannya sendiri, seseorang yang memahami apa yang ia miliki namun belum sepenuhnya mampu menyatukan dirinya sendiri atau berdamai dengan kemampuan tersebut. Lapisan psikologis ini membuat kehadiran Dick Hallorann terasa signifikan, bukan hanya sebagai penghubung antar cerita, tetapi juga sebagai karakter dengan konflik internal yang kuat. Taruhannya pun terasa sungguh-sungguh, terutama karena serial ini tidak segan membunuh karakter, termasuk anak-anak, yang semakin menegaskan betapa serius dan kelam dunia yang sedang dibangun.

Dari sisi naratif, serial ini memilih pendekatan yang sabar. Misteri tentang Pennywise dan asal-usulnya tidak dibongkar secara terburu-buru, seolah percaya bahwa penonton akan peduli terlebih dahulu pada para karakternya. Meski dipenuhi tokoh anak-anak, justru dari merekalah beberapa penampilan paling menonjol datang. Clara Stack sebagai Lilly Bainbridge tampil kuat dalam memerankan sosok yang dibebani trauma emosional, menghadirkan emosi yang terasa mentah dan menyakitkan. Perkembangan karakter Marge Truman menjadi salah satu yang paling solid sepanjang musim, dengan Matilda Lawler mampu menunjukkan pertumbuhan emosional yang terasa bertahap dan meyakinkan. Dinamika ini kemudian diperkaya oleh chemistry yang menggemaskan antara Marge dan Rich Santos, yang diperankan Arian S. Cartaya, memberi keseimbangan emosional yang hangat di tengah kegelapan cerita. Minimnya humor tetap dijaga, membuat tone cerita terasa dewasa dan konsisten, berbeda dengan film-filmnya yang kerap melemahkan ketegangan lewat lelucon. Pendekatan ini membuka ruang bagi momen-momen emosional yang benar-benar menyentuh, terutama menjelang klimaks yang terasa epik.

Secara teknis, desain produksi berhasil menghidupkan atmosfer retro dengan kuat, sementara visualnya konsisten tampil mencolok. Kembalinya Bill Skarsgård sebagai Pennywise menjadi salah satu sorotan utama, dengan penampilan yang terasa lebih liar dan tidak terkendali, menegaskan sosok entitas jahat alih-alih sekadar badut menakutkan. Penggunaan efek visual memang sesekali terasa berlebihan, namun tetap efektif dan kreatif dalam memvisualisasikan berbagai bentuk ketakutan yang dimanifestasikan Pennywise. Meski ceritanya masih akan berlanjut ke musim kedua, musim ini ditutup dengan rapi dan terasa utuh, sekaligus membentuk lingkaran yang solid dengan film-filmnya. Menariknya, rumor menyebutkan bahwa musim berikutnya justru akan mundur ke periode waktu yang lebih lampau, sebuah struktur naratif yang terasa unik dan relevan dengan Pennywise sebagai entitas yang sadar akan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Jika dieksekusi dengan tepat, pendekatan ini memiliki potensi besar untuk membawa ceritanya ke level yang jauh lebih kuat.

RATE: 9/10

Penulis: Arya Yudhistira Wicaksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bandung BJB Tandamata Kalahkan Medan Falcons 3-0

17 Januari 2026 - 09:01 WIB

Review Stranger Things 5, Ketika Final Season Kehilangan Nyali

1 Januari 2026 - 14:05 WIB

10 Film Pilihan Desir 2025

31 Desember 2025 - 23:56 WIB

Review Rangga & Cinta: Perayaan Ikon yang Kurang Sempurna

11 Oktober 2025 - 09:46 WIB

Mengurangi Screen Time Melalui Kegiatan Sejenak Tanpa Layar Bersama Komunitas Sadar Waktu (SATU)

25 September 2025 - 13:29 WIB

Trending di Terkini