Menutup 2025, penulis ingin mencatat film-film yang paling membekas sepanjang tahun ini. Daftar ini tidak disusun berdasarkan peringkat, juga tidak dimaksudkan untuk merangkum seluruh rilisan 2025. Tidak semua film bisa atau perlu masuk, dan tidak semuanya pula telah dibahas secara khusus oleh penulis sebelumnya.
Sepuluh film pilihan desir 2025 ini hadir sebagai catatan akhir tahun yang personal, berangkat dari pengalaman menonton dan ketertarikan penulis terhadap film-film yang terasa tinggal lebih lama setelah ditonton, baik karena ceritanya, gagasannya, maupun perasaan yang ditinggalkan.
1. The Life of Chuck

Terlepas dari statusnya yang cenderung berada di bawah radar, The Life of Chuck adalah salah satu film rilisan 2025 yang bagi penulis terasa paling hangat, mengharukan, sekaligus misterius. Diadaptasi dari cerita pendek Stephen King, film ini merayakan kehidupan dan berbagai perjuangan yang menyertainya hingga seseorang akhirnya menghembuskan napas terakhir, melalui perspektif yang imajinatif namun tetap membumi.
Charles Krantz, atau Chuck, yang diperankan Tom Hiddleston, hadir sebagai representasi your everyday guy yang berusaha menjalani hidup sebaik mungkin, terlepas dari beban yang dipikulnya. Film ini tidak pernah berusaha terlalu mellow, juga tidak terasa menggurui atau memotivasi secara paksa. Ceritanya mengalir dengan sangat natural, seperti kehidupan itu sendiri. Justru karena kesederhanaan itulah film ini begitu disukai penulis.
2. The Long Walk

Sebagai adaptasi Stephen King kedua dalam daftar ini, The Long Walk mengeksplorasi dunia distopia yang suram dan represif, di mana kekuatan militer mencengkeram masyarakat hingga sanggup mempertontonkan kontes penuh kekerasan yang berujung kematian secara terbuka. Namun film ini tidak berhenti pada gambaran sistem yang kejam semata.
Fokus cerita berada pada sekelompok pemuda, di antaranya Ray Garraty (Cooper Hoffman) dan Peter McVries (David Jonsson), yang secara perlahan membangun ikatan di sepanjang perjalanan mematikan tersebut. Melalui mereka, film ini memperlihatkan bagaimana pertemanan, tak peduli sesingkat apa, mampu menjadi alasan untuk bertahan hidup, atau bahkan melawan sistem yang rusak. Kekerasan yang ditampilkan pun tidak pernah terasa sebagai spektakel kosong, melainkan sebagai observasi dingin tentang sejauh apa manusia dalam posisi berkuasa dapat melangkah.
3. Frankenstein

Jika bukan karena The Life of Chuck, Frankenstein kemungkinan besar akan berada di urutan teratas daftar ini. Arahan Guillermo del Toro ini terasa monumental, bukan hanya sebagai film tahun ini, tetapi juga sebagai pencapaian sinema dalam skala yang lebih luas. Sebagai passion project sang sutradara, film ini menjadi adaptasi paling setia dari novel Frankenstein; or, The Modern Prometheus karya Mary Shelley, salah satu fondasi utama fiksi ilmiah modern.
Didukung jajaran pemain kuat seperti Oscar Isaac sebagai Victor Frankenstein dan Jacob Elordi sebagai sang makhluk, film ini dipenuhi performa yang berlapis dan emosional. Penulis secara pribadi menganggap performa Elordi sebagai salah satu yang terbaik sepanjang 2025. Dengan naskah yang puitis serta production value mewah khas del Toro, film ini berhasil membawa penonton ke dunia yang sepenuhnya baru, sekaligus mengukuhkan posisinya dalam lanskap sinema 2025.
4. Wake Up Dead Man

Sebagai entri ketiga dari waralaba orisinal Knives Out arahan Rian Johnson, Wake Up Dead Man menghadirkan konflik yang jauh lebih serius dan reflektif dibandingkan dua pendahulunya. Film ini mengangkat tema keyakinan, agama, dan rasa bersalah, sambil tetap mempertahankan elemen whodunit yang menjadi ciri khasnya.
Benoit Blanc kini justru berada dalam posisi yang rapuh, kesulitan memecahkan teka-teki di tengah karakter-karakter yang sedang diuji imannya. Benturan antara pandangan Blanc yang agnostik dan skeptis dengan tokoh-tokoh berkeyakinan kuat, bahkan cenderung kolot, menciptakan dinamika yang sangat menarik. Perkembangan karakter Pastor Jud Duplenticy yang ditulis dengan baik, dibantu dengan performa Josh O’Connor sebagai sosok yang tampak sangat berusaha menebus dosa masa lalunya, menjadi salah satu momen paling berkesan dari sinema 2025 menurut penulis.
5. Sinners

Menandai kembalinya Ryan Coogler ke film orisinal setelah lama berkutat dengan waralaba, Sinners menjadi perpaduan antara horor klasik, representasi komunitas kulit hitam, dan kekuatan musik sebagai medium spiritual lintas generasi. Film ini menghidupkan kembali mitologi vampir klasik dengan pendekatan yang terasa segar, berlatar era Jim Crow yang keras dan tidak berperikemanusiaan.
Michael B. Jordan tampil impresif sebagai duo kembar Smokestack Twins, dengan ketegangan yang dibangun perlahan namun konsisten. Iringan musik garapan Ludwig Göransson yang khas semakin memperkuat atmosfer film ini. Bagi penulis, Sinners bukan hanya pengalaman horor yang efektif, tetapi juga salah satu pengalaman menonton paling berkesan sepanjang tahun.
6. Thunderbolts*

Terlepas dari preferensi penulis yang secara personal lebih memilih The Fantastic Four: First Steps sebagai film Marvel favorit tahun ini, Thunderbolts* justru terasa sebagai film Marvel yang paling penting dalam iklim film superhero 2025. Bukan karena skalanya, melainkan karena keberaniannya mengangkat kesehatan mental sebagai fondasi cerita, bukan sekadar elemen tempelan.
Tema tersebut memang bukan hal baru, tetapi di sini diimplementasikan dengan sabar dan empatik. Film ini tidak memaksa penonton untuk merasa terwakili, melainkan memberi ruang bagi karakter-karakternya yang merasa rusak, tidak layak, dan tersisih untuk saling hadir satu sama lain. Interaksi ansambel yang awalnya terasa canggung perlahan berkembang menjadi hubungan yang tulus. Di saat yang sama, Thunderbolts* juga menjadi salah satu proyek Marvel Studios yang akhirnya benar-benar membuka jalan menuju Avengers: Doomsday secara rapi dan terarah.
7. Superman

Penulis mengakui, keberadaan Superman dalam daftar ini adalah keputusan yang terdengar klise dan bias. Namun film arahan James Gunn ini sulit disangkal sebagai salah satu comic book movie paling penting dalam satu dekade terakhir. Ia mengemban tugas besar: memulai DC Universe dengan lantang, memperkenalkan ulang Superman secara adil dan setia pada sumbernya, sekaligus menghadirkan kembali figur pahlawan yang dipenuhi harapan di tengah dunia yang semakin skeptis dan pesimis.
Alih-alih kembali pada pendekatan yang terlalu serius dan muram, film ini menekan tombol reset bagi adaptasi Superman layar lebar. Konflik yang berpusat pada upaya obsesif Lex Luthor untuk menyingkirkan Superman, berangkat dari prasangka terhadap sosok yang dianggap sebagai “alien”, terasa sebagai alegori kuat isu imigran. Ditambah dengan subplot perebutan wilayah yang memaksa warga sipil tersingkir, film ini secara kebetulan beresonansi dengan konflik geopolitik yang masih berlangsung hingga hari ini.
8. Predator: Killer of Killers

Tahun ini menghadirkan dua film Predator dari sutradara yang sama, Dan Trachtenberg, dengan pendekatan yang sepenuhnya berbeda. Di antara keduanya, Predator: Killer of Killers adalah yang paling layak mendapat sorotan lebih. Tanpa mengandalkan nostalgia murahan, referensi berlebihan, atau crossover halus dengan waralaba lain, film ini berdiri dengan identitasnya sendiri.
Disajikan melalui animasi yang memanjakan mata, film ini menuturkan kisah lintas kultur dan era, mengikuti tiga protagonis utama dari latar belakang yang berbeda: seorang Viking, samurai Jepang, dan pilot Perang Dunia II. Pertemuan mereka tidak disederhanakan secara instan. Perbedaan bahasa dan kultur benar-benar terasa, menghadirkan ketegangan yang jarang diperhatikan film-film sejenis. Di balik premisnya yang terdengar eksperimental, film ini justru menyajikan narasi yang solid dan layak mendapat perhatian lebih luas.
9. 28 Years Later

28 Years Later menandai kembalinya waralaba ini setelah hampir dua dekade, dan mengejutkannya, film ini memilih jalan yang paling tidak terduga. Alih-alih mengandalkan ledakan besar atau aksi kolosal, film ini tampil dengan pendekatan teknis yang sangat auteur, memanfaatkan sinematografi kasar, ritme sunyi, dan penggunaan ruang yang membuat dunia pasca-infeksi terasa semakin terasing.
Yang paling mengejutkan adalah bagaimana ceritanya justru menjadi yang paling personal dalam seluruh waralaba. Film ini tidak hanya berbicara tentang wabah, tetapi tentang generasi yang tumbuh di atas trauma yang tidak pernah mereka alami secara langsung. Cliffhanger di akhir film memang terasa menggantung, namun cukup efektif membangun rasa penasaran menuju sekuelnya, The Bone Temple, yang dijadwalkan rilis awal 2026.
10. Weapons

Sebagai salah satu film horor orisinal paling unik tahun ini, Weapons karya Zach Cregger kembali menunjukkan ketertarikannya pada penceritaan yang tidak konvensional, setelah Barbarian pada 2022. Premisnya sebenarnya sederhana: serangkaian kejadian aneh yang berpusat pada satu komunitas kecil. Namun cara ceritanya dipecah ke dalam berbagai sudut pandang karakter membuat narasinya terasa semakin meresahkan.
Meski pacing-nya cenderung lambat, elemen black comedy yang diselipkan justru membantu menjaga ketegangan. Kekerasan yang ditampilkan terasa brutal, namun tidak pernah kehilangan nuansa absurd. Film ini memuncak pada akhir yang konyol sekaligus mengerikan, meninggalkan kesan tidak nyaman yang justru menjadi kekuatan utamanya. Sebagai penutup, Weapons terasa seperti pernyataan jujur tentang ketakutan modern yang sulit dijelaskan, namun mudah dirasakan.
Daftar ini pada akhirnya adalah refleksi pengalaman menonton penulis sepanjang 2025, lengkap dengan bias dan keterikatan personal di dalamnya. Film-film yang terpilih mungkin tidak mewakili semua orang, tetapi masing-masing menawarkan sesuatu yang jujur dan layak diingat.
Menutup tahun ini, sinema tetap menjadi ruang untuk merekam kegelisahan, harapan, dan cerita zamannya, dengan cara yang tidak selalu besar, namun sering kali terasa lebih dekat.
Penulis: Arya Yudhistira Wicaksono











