Menu

Mode Gelap
Satresnarkoba Batu Bara Ajak Pers Main Tim, Narkoba Diserbu dari Layar ke Lapangan Memahami Profil Risiko Agar Strategi Investasi Optimal Enam Proyek Sekaligus, Danantara Gaspol Hilirisasi US$ 7 Miliar Enam Proyek Sekaligus, Danantara Gaspol Hilirisasi US$ 7 Miliar Iklan Lari ke Medsos, PHK Awak Media Merebak: Dewan Pers Ingatkan Peran Pers Tetap Vital AI Lagi Ngebut, Menkomdigi Ingatkan Ini Di HPN 2026. Apa Saja?

Entertainment

Review Stranger Things 5, Ketika Final Season Kehilangan Nyali

badge-check


					Review Stranger Things 5, Ketika Final Season Kehilangan Nyali Perbesar

Stranger Things 5 menjadi season penutup dari keseluruhan seri yang telah berjalan sejak 2016. Melanjutkan konflik terbuka di akhir season 4 yang sangat diantisipasi, Duffer Brothers sebagai kreator justru tampak kesulitan memenuhi ekspektasi penonton dalam menghadirkan cerita yang benar-benar terasa mendesak dan berujung konklusif. Alih-alih memberikan kepastian atas berbagai aspek cerita yang sebelumnya dibiarkan menggantung, season ini malah memunculkan lebih banyak pertanyaan baru, sembari menawarkan jawaban yang terasa setengah hati dan tidak memuaskan.

Konflik besar yang seharusnya sudah diketahui oleh masyarakat Hawkins sejak akhir season 4 kembali diperlakukan seolah rahasia eksklusif yang hanya dipedulikan oleh karakter-karakter utama. Padahal, skala ancaman yang dihadirkan jelas terlalu besar untuk diabaikan oleh lingkungan sekitar. Di sisi lain, build-up mengenai asal-usul Vecna sebagai antagonis utama justru runtuh ketika cerita kembali membuka lapisan baru dari latar belakang karakternya. Alih-alih dieksplorasi secara utuh di medium utama yang paling penting, pengembangan karakter Henry Creel lebih terasa bergantung pada Stranger Things: The First Shadow, sebuah stage play yang jelas tidak dapat diakses oleh seluruh penonton.

Upaya season ini untuk menjembatani kekosongan tersebut melalui potongan-potongan adegan flashback singkat malah terasa kontradiktif. Joyce muda dan Hopper muda, yang secara logika seharusnya mengenal Henry sebelum ia menjadi Vecna, tidak pernah menyebutnya sebagai sosok yang mereka kenal. Hal ini membuat penjelasan yang diberikan terasa tidak inklusif, bahkan membingungkan, terutama bagi penonton yang hanya mengikuti serialnya saja.

Masalah lain datang dari banyaknya plot hole dan konflik yang dibiarkan tidak terselesaikan tanpa alasan yang masuk akal. Absennya peran orang tua karakter utama seperti Dustin, Lucas, dan Max menjadi contoh paling mencolok. Di tengah konflik yang semakin serius dan berbahaya, nyaris tidak ada dorongan atau pertanyaan logis mengenai keberadaan anak-anak mereka. Hal serupa juga terjadi pada nasib Eddie Munson, yang tewas di season 4 dengan reputasi tercoreng. Meski duka Dustin sempat diperlihatkan secara konsisten di awal season, kisah Eddie sendiri tetap tidak pernah ditutup dengan layak.

Dari segi visual, season ini memang terlihat jauh lebih all-out dibandingkan musim-musim sebelumnya. Penggunaan CGI terasa masif, terutama dengan semakin banyaknya kemunculan Demogorgon serta pintu menuju Upside Down yang kini terbuka lebar. Namun, di balik skala visual tersebut, estetika retro khas Stranger Things justru terasa terabaikan. Identitas era 80-an yang selama ini menjadi ciri kuat seri ini seolah hanya dipertahankan lewat outfit karakter, serta rentetan referensi pop culture yang semakin terasa dipaksakan dan tidak lagi muncul secara natural.

Di tengah berbagai kekurangan tersebut, performa Jamie Campbell Bower sebagai Henry Creel sekaligus Vecna masih menjadi salah satu highlight yang patut diapresiasi. Ia tetap berhasil menghadirkan sosok antagonis yang mengintimidasi dan konsisten secara gestur maupun intensitas. Sayangnya, performa kuat ini tereduksi oleh pacing yang bermasalah dan cerita yang tidak fokus, membuat motivasi Vecna sebagai villain tersaji secara terfragmentasi dan sulit untuk benar-benar diempati secara emosional.

Bukan berarti Stranger Things 5 sepenuhnya gagal. Beberapa elemen pendukung sebenarnya memiliki potensi kuat sebagai bumbu penutup cerita, mulai dari kembalinya Kali yang absen sejak season 2, pemberian spotlight yang lebih spesifik pada karakter Holly, hingga penjelasan yang lebih detail mengenai apa sebenarnya Upside Down. Penjelasan soal Upside Down setidaknya terasa cukup membantu, namun dua elemen lainnya kembali bermasalah. Karakter Holly tumbuh dengan sangat cepat hanya dalam jeda waktu sekitar 18 bulan sejak season 4, membuat perkembangannya terasa tidak natural. Sementara itu, kehadiran Kali yang sempat diprediksi akan berperan signifikan nyaris tidak memberikan dampak berarti pada jalannya konflik.

Masalah terbesar season ini juga terletak pada tendensi penulisan yang terlalu takut untuk mengorbankan karakter. Konflik yang dibangun semakin lama justru kehilangan rasa urgensi, tidak memiliki taruhan nyata, dan minim pengorbanan. Plot berulang kali memainkan ekspektasi penonton tentang siapa yang akan mati, tanpa benar-benar berani mengeksekusinya. Akibatnya, karakter-karakter terasa stagnan, seolah tidak diizinkan untuk berkembang atau mempertaruhkan nyawa mereka demi konflik yang sedang berlangsung.

Durasi tiap episode yang luar biasa panjang pun memperparah masalah ini. Dengan durasi lebih dari satu jam per episode, bahkan mencapai dua jam untuk episode terakhir, penceritaan tetap terasa tidak efisien. Padahal, keseluruhan cerita sangat mungkin dirangkum secara komplit dalam durasi kurang dari lima jam. Banyak adegan argumentatif yang tidak perlu dan terasa repetitif, tanpa benar-benar menambah bobot emosional cerita.

Terlepas dari absolute mess yang kerap disajikan, Stranger Things 5 masih konsisten menjadi tontonan yang fairly entertaining, terutama di momen-momen serunya yang memanfaatkan skala produksi besar dan dinamika antarkarakter yang sudah terbangun sejak lama. Namun, pencapaian tersebut tetap tidak cukup untuk menyamai kualitas Stranger Things di masa terbaiknya, khususnya jika dibandingkan dengan kekuatan emosional dan fokus naratif yang pernah ditawarkan beberapa season sebelumnya.

Highlight personal penulis di season ini mungkin hanya datang dari karakter Will, yang akhirnya diberi ruang untuk berperan lebih signifikan dan mampu mengatasi ketakutannya sendiri. Namun di luar itu, sorotan terbesar justru terletak pada pilihan Duffer Brothers untuk bermain aman. Ketakutan untuk mengorbankan karakter membuat mereka rela mengorbankan potensi cerita yang seharusnya bisa jauh lebih emosional dan penuh makna, demi sebuah ending yang terasa klise dan terlalu nyaman.

Bahkan ketika ada karakter yang benar-benar dikorbankan, narasi tetap enggan membiarkan karakter lain belajar untuk merelakan. Mereka justru memilih hidup dalam fakta palsu yang semu, seolah demi menjaga pintu tetap terbuka bagi potensi spin-off di masa depan. Pada akhirnya, karakter-karakter di Stranger Things 5 terasa seperti dilarang untuk benar-benar berkembang.

RATE: 6.5/10

Penulis: Arya Yudhistira Wicaksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bandung BJB Tandamata Kalahkan Medan Falcons 3-0

17 Januari 2026 - 09:01 WIB

10 Film Pilihan Desir 2025

31 Desember 2025 - 23:56 WIB

Review IT: Welcome to Derry, Asal-Usul Pennywise dan Sejarah Kelam Kota Derry

28 Desember 2025 - 11:25 WIB

Review Rangga & Cinta: Perayaan Ikon yang Kurang Sempurna

11 Oktober 2025 - 09:46 WIB

Mengurangi Screen Time Melalui Kegiatan Sejenak Tanpa Layar Bersama Komunitas Sadar Waktu (SATU)

25 September 2025 - 13:29 WIB

Trending di Terkini