Desir.id – Medan | Sebuah semesta cerita akan terasa semakin kaya ketika berani menghadirkan karakter yang dapat memantulkan sisi lain dari protagonisnya. Sosok semacam ini biasanya tidak hanya berfungsi sebagai lawan, tetapi juga sebagai alat untuk mempertanyakan nilai-nilai yang selama ini dipegang oleh karakter utama. Dalam usaha mengembangkan semesta yang telah dibangun melalui dua film Qodrat sebelumnya, film terbaru di Qodrat-Verse mengambil pendekatan tersebut dengan menghadirkan Darso (Marthino Lio), seorang karakter yang pada banyak aspek terasa sebagai antitesis dari perjalanan Ustaz Qodrat. Dari titik itulah film ini menemukan identitasnya sendiri, jauh lebih muram, brutal, dan dipenuhi keputusasaan.
Berbeda dengan kisah Ustaz Qodrat yang berakar pada perjuangan melawan kegelapan dan mempertahankan keimanan di tengah cobaan, perjalanan Darso justru bergerak ke arah sebaliknya. Film ini mengikuti seorang pria yang hidupnya hancur setelah kehilangan Darsi, sosok yang sangat ia cintai. Sebuah adegan pembuka yang efektif langsung memperlihatkan fondasi hubungan keduanya sekaligus menjadi titik awal dari kehancuran mental Darso. Sejak saat itu, cerita berkembang menjadi sebuah tragedi personal tentang duka, obsesi, dan seseorang yang perlahan kehilangan dirinya sendiri.
Kekuatan terbesar film ini terletak pada keberhasilannya membuat penonton percaya pada hubungan Darso dan Darsi sejak awal. Chemistry yang terbangun di antara keduanya terasa begitu meyakinkan sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk memahami mengapa kehilangan tersebut meninggalkan luka yang begitu dalam bagi Darso. Karena itulah aspek emosional film bekerja dengan sangat baik. Setiap keputusan yang ia ambil setelah tragedi tersebut terasa lahir dari rasa kehilangan yang terus menggerogoti dirinya.
Sayangnya, fokus yang sudah terbangun kuat pada babak awal sempat terpecah ketika film mulai mengalihkan perhatian kepada konflik mengenai masyarakat desa yang tertindas oleh korporasi. Tema tersebut memang masih relevan, tetapi juga merupakan salah satu tema yang cukup sering muncul dalam perfilman Indonesia beberapa tahun terakhir. Dibandingkan memperluas konflik tersebut, film terasa akan lebih kuat apabila tetap berpusat pada proses Darso menghadapi kehilangan dan bagaimana duka perlahan berubah menjadi kegilaan. Fondasi emosional untuk itu sebenarnya sudah dibangun dengan sangat baik sejak adegan pembuka.
Dari sisi penampilan aktor, Marthino Lio menunjukkan mengapa ia menjadi pilihan yang tepat untuk memerankan karakter seperti Darso. Ia mampu menghadirkan sosok yang mudah mendapatkan simpati penonton sekaligus tetap meyakinkan ketika karakter tersebut mulai tenggelam dalam sisi tergelap dirinya. Kemampuan fisiknya juga mendukung berbagai adegan aksi yang menuntut intensitas tinggi sepanjang film. Di sisi lain, Dayinta Melira sebagai Darsi memegang peran yang sama pentingnya dalam memastikan fondasi emosional cerita bekerja sebagaimana mestinya. Meski porsi kemunculannya tidak sebesar Marthino, ia berhasil meninggalkan kesan yang kuat sejak awal film. Chemistry yang terjalin antara Dayinta dan Marthino terasa begitu natural sehingga hubungan Darso dan Darsi langsung terasa meyakinkan. Karena itulah, ketika tragedi mulai menghantam kehidupan Darso, penonton dapat benar-benar merasakan besarnya kehilangan yang menjadi pusat konflik film ini.
Film ini juga menghadirkan Barry Prima dalam sebuah peran yang meskipun tidak memiliki banyak waktu tampil, tetap memberikan warna tersendiri bagi keseluruhan cerita. Kehadirannya terasa seperti sebuah homage yang tepat terhadap sosok legenda film aksi Indonesia tersebut. Film tidak memaksakan karakternya untuk menjadi pusat perhatian, tetapi mampu memanfaatkan kehadirannya secara efektif sehingga kemunculannya tetap meninggalkan kesan dan menjadi bonus menyenangkan bagi penonton yang akrab dengan jejak panjang kariernya.
Dari segi soal aksi, Charles Gozali sekali lagi menunjukkan kepiawaiannya dalam merancang set piece yang menghibur. Jika Qodrat masih unggul dalam hal pertarungan yang lebih menonjolkan unsur bela diri, film ini menawarkan pendekatan yang berbeda melalui aksi yang jauh lebih berdarah dan brutal. Pada titik tertentu, film bahkan bertransformasi menjadi semacam pseudo-slasher yang menghadirkan sensasi berbeda dibandingkan dua film sebelumnya. Sebagai penggemar slasher, bagian ini menjadi salah satu kejutan paling menyenangkan yang ditawarkan film.
Konsistensi nada kelam tersebut juga terasa hingga penghujung cerita. Alih-alih menutup semuanya dengan rapi, film memilih mengakhiri perjalanannya dengan kesan yang muram dan belum sepenuhnya selesai. Keputusan tersebut terasa selaras dengan tragedi yang menjadi inti cerita sejak awal. Lalu ada adegan post-credits yang sukses membangun antusiasme terhadap masa depan Qodrat-Verse. Sensasinya mengingatkan penulis pada adegan post-credits dalam film Split (2016) yang membuat penonton menyadari bahwa sesuatu yang lebih besar sedang dipersiapkan.
Sebagai upaya memperluas dunia yang telah dibangun oleh dua film Qodrat sebelumnya, film ini berhasil menemukan identitasnya sendiri. Meski sempat kehilangan fokus di bagian tengah, kekuatan hubungan Darso dan Darsi, penampilan solid Marthino Lio, serta keberaniannya menghadirkan kisah yang lebih tragis dan tanpa harapan membuatnya menjadi tambahan yang menarik bagi Qodrat-Verse. Sebuah antitesis yang efektif terhadap perjalanan Ustaz Qodrat, sekaligus bukti bahwa semesta ini masih memiliki banyak ruang untuk dieksplorasi.
RATE: 8/10
Penulis: Arya Yudhistira Wicaksono












