Desir.id – Jakarta | Perjalanan hidup Indra Setiawan menjadi potret nyata bahwa sukses tidak selalu lahir dari kenyamanan. Pengusaha yang kini bergerak di bidang konstruksi dan interior itu mengawali langkahnya sebagai kuli pasar dengan upah Rp5.000 per malam.
Indra merantau dari Solo ke Jakarta pada 2008, tak lama setelah lulus SMA. Tanpa koneksi dan bekal finansial memadai, ia menerima pekerjaan sebagai kuli di Pasar Minggu, menarik gerobak sayur dan memanggul karung sejak pukul 00.00 hingga 07.00 WIB.
Dalam kondisi serba terbatas, ia tidur beralaskan kardus dan membagi satu bungkus mi instan untuk dua kali makan. Situasi tersebut membentuk daya tahan mental yang kemudian menjadi fondasi perjalanan bisnisnya.
Kerja kerasnya membuahkan kepercayaan. Ia diberi kesempatan membuka lapak sendiri di kawasan Jembatan Merah dan sempat meraup keuntungan bersih hingga Rp1 juta per malam.
Namun ritme kerja malam yang ekstrem berdampak pada kesehatan. Indra terserang paru-paru basah dan terpaksa menghentikan aktivitasnya di pasar.
Setelah pulih, ia bekerja sebagai Office Boy di perusahaan alat kesehatan asal Korea dengan gaji Rp750.000 per bulan.
Momentum berubah ketika ia mendapat kesempatan mempresentasikan produk perusahaan. Kemampuan komunikasi dan penjualannya menarik perhatian manajemen. Kariernya melesat dari staf, supervisor, manajer, hingga dipercaya menjadi manajer cabang.
Di tengah karier tersebut, Indra tetap mengejar pendidikan tinggi. Ia menjalani jadwal padat: bekerja pagi hingga sore, kuliah sore hingga malam, lalu kembali menjadi kuli pasar mulai tengah malam.
Selama hampir satu tahun, ia hanya tidur sekitar satu hingga dua jam per hari demi membiayai kuliah. Disiplin manajemen waktu menjadi kunci agar target pendidikan dan karier tetap berjalan.
Setelah menyelesaikan studi dan keluar dari pekerjaan tetap, Indra memilih jalur wirausaha. Ia mencoba berbagai bidang, mulai dari MLM, asuransi, hingga ekspedisi, namun tidak semuanya berhasil.
Ia bahkan menghadapi kegagalan besar yang membuatnya menanggung utang hingga miliaran rupiah. Bisnis sepatu anti air dan kaos empat dimensi berbasis augmented reality yang dirintisnya juga harus berhenti akibat kendala manajemen operasional.
Dalam fase jatuh bangun itu, Indra berpegang pada nasihat tokoh nasional Dahlan Iskan bahwa setiap orang memiliki “jatah gagal”. Baginya, kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan.
Kini, Indra Setiawan mengelola bisnis konstruksi dan interior yang dikenal lewat inovasi cicilan renovasi bulanan. Konsep tersebut sempat viral dan menarik minat pasar karena memberi solusi pembiayaan yang lebih fleksibel.
Selain itu, ia aktif di pasar finansial sebagai trader forex dan menjadi pelatih public speaking. Ia membagikan pengalaman jatuh bangunnya untuk memotivasi generasi muda agar berani memulai.
Indra menegaskan bahwa menjadi pengusaha bukan sekadar mengejar keuntungan pribadi. Ia menilai wirausaha harus mampu membuka lapangan kerja dan menjadi perantara rezeki bagi banyak orang.
“Modal utama bukan uang, tetapi kemauan dan keberanian untuk mencoba. Kalau gagal, evaluasi dan bangkit lagi,” ujarnya dalam sebuah sesi berbagi pengalaman.
Kisah Indra Setiawan menunjukkan bahwa perjalanan dari kuli pasar menuju pengusaha sukses bukan proses instan. Konsistensi, ketahanan mental, dan keberanian mengambil risiko menjadi faktor yang menentukan arah langkahnya hingga hari ini. (Red)












