Menu

Mode Gelap
Lelaki Itu Menanam Sebelum Ada yang Peduli Sebelum Laut Memakan Tanah Pemkab Asahan, Polres, dan PWI Main Bola Bareng, HUT Bhayangkara Jadi Ajang Perkuat Sinergi Bangun Kekompakan Jelang HUT Bhayangkara, Pemkab Asahan, Polres, dan PWI Asahan Adu Strategi di Lapangan Hijau Pemilik Akun Medsos Penyebar Hoaks Pimpinan DPRD Sumut Dipolisikan 8 Lokasi Tambang Ilegal di Galang Resmi Ditutup

News

Lelaki Itu Menanam Sebelum Ada yang Peduli

Avatarbadge-check


					Lelaki Itu Menanam Sebelum Ada yang Peduli Perbesar

Azizi tidak ingat persis kapan ia mulai melakukannya. Yang ia ingat, waktu itu tidak ada yang mau menemaninya. Sementara orang-orang di sekitarnya menebang pohon mangrove untuk dijadikan kayu bakar, ia pergi ke tepi pantai dan menanam. Bukan dengan alat canggih. Bukan dengan dana dari mana pun. Hanya dengan tangan, sepasang sepatu usang, dan keyakinan yang ia sendiri tidak bisa jelaskan dari mana asalnya.

Pantai itu namanya Pantai Sejarah. Terletak di Desa Perupuk, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara. Sebuah nama yang indah untuk tempat yang kenyataannya sudah lama tidak indah. Mangrovenya gundul, airnya kotor, dan malam-malamnya tidak tenang. Orang-orang sudah berhenti memperhatikannya. Tapi Azizi tidak berhenti.

Saya tidak pernah bertemu Azizi secara langsung. Tapi setiap kali saya membaca tentang apa yang ia lakukan, bertahun-tahun menanam sendirian di pantai yang semua orang sudah lupakan, saya selalu berpikir bahwa ada jenis keberanian yang tidak bisa diajarkan di kelas manapun. Ia melakukan sesuatu bukan karena ada yang memintanya, bukan karena ada yang membayarnya, tapi semata-mata karena ia tidak tahan melihat sesuatu yang indah perlahan mati.

Beberapa tahun setelah Azizi memulai penanaman mangrovenya yang sunyi itu, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) datang. Bukan untuk memasang papan nama. Bukan untuk foto ceremonial lalu pergi. Sejak 2015, mereka mulai mendukung penanaman mangrove di pesisir Batu Bara, dan pada 2020, Pantai Sejarah masuk sebagai lokasi binaan. Infrastruktur dibangun satu per satu: toilet, sumur bor, lapak untuk pelaku usaha kecil, spot foto, dermaga kayu yang menjorok ke laut. Azizi dan kelompoknya yang kemudian dikenal sebagai Kelompok Tani Cinta Mangrove diberdayakan sebagai pengelola, bukan sekadar penerima.

Hasilnya bisa dilihat sekarang. Pantai yang dulu semua orang lupakan itu kini bernama Batubara Mangrove Park. Ada 70 UMKM baru yang hidupnya bergantung pada kunjungan wisatawan. Pendapatan dari pariwisata di kawasan ini mencapai sekitar Rp910 juta per tahun. Total selama sembilan tahun, lebih dari 51.000 bibit mangrove sudah tertanam di pesisir ini setiap batangnya menyerap karbon, menahan abrasi, menjadi tempat ikan-ikan berkembang biak.

Kalau kita bergeser jauh ke pedalaman  naik ke pegunungan, melewati kabut pagi dan jalan berliku kita akan sampai di tepi Danau Toba. Dan di sinilah hubungan Inalum dengan alam punya akar yang lebih tua, lebih dalam, dan lebih rumit dari sekadar program penghijauan.

Air dari Danau Toba mengalir melalui Sungai Asahan. Sungai itulah yang menggerakkan turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air milik Inalum. Listrik dari sana yang menyalakan pabrik peleburan aluminium di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara tempat yang tidak jauh dari pantai tempat Azizi menanam mangrovenya. Jadi ketika danau itu rusak, ketika hutannya gundul dan airnya berkurang, bukan hanya alam yang menderita. Seluruh rantai produksi Inalum pun ikut goyah. Ini bukan metafora, ini betul-betul bergantung satu sama lain.

Seorang petani tua di pinggir Kabupaten Toba pernah bercerita kepada saya atau mungkin saya membacanya di suatu tempat, tapi ceritanya terasa seperti percakapan langsung bahwa dulu ketika hujan turun, air langsung meresap ke tanah. Sekarang air mengalir deras ke bawah, membawa tanah bersamanya. Pohon-pohon sudah lama tidak ada di lereng itu, katanya sambil menunjuk bukit yang cokelat dan gundul.

Ia tidak berlebihan. Berdasarkan Laporan Masterplan Konservasi 2022, lahan kritis di Daerah Tangkapan Air Danau Toba sudah mencapai sekitar 228.000 hektar tanah yang erosi, lereng yang gundul, resapan air yang menipis dari tahun ke tahun. Angka yang besar bahkan untuk sekadar dibayangkan.

Inalum mulai merespons ini sejak 2018. Penanaman pohon dilakukan secara rutin di kawasan DTA Danau Toba, menyebar di tujuh kabupaten: Toba, Dairi, Karo, Humbang Hasundutan, Samosir, Simalungun, dan Tapanuli Utara. Di 2018 luas area yang ditanami mencapai 400 hektar. Berlanjut 274 hektar pada 2021, 260 hektar di 2022, 500 hektar di 2024. Dan tahun ini targetnya sama 500 hektar lagi. Total dari 2018 hingga 2025, lebih dari 3.298 hektar lahan telah kembali dihijaukan.

Jenis pohon yang ditanam pun dipilih dengan nalar yang sederhana tapi masuk akal: ada pinus, suren, mahoni, dan trembesi untuk menahan erosi, tapi ada juga durian, alpukat, kemiri, dan aren yang bisa menghasilkan sesuatu bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Dua manfaat dalam satu tindakan.

Yang membuat saya terkesan bukan hanya angka penanamannya, tapi bagaimana mereka menjamin kelangsungannya. Banyak program penghijauan yang kandas bukan karena niatnya buruk, tapi karena ketika musim tanam tiba, bibitnya tidak ada. Pada Juni 2024, Inalum mulai membangun Pembibitan Modern Paritohan di Desa Pintupohan, Kabupaten Toba fasilitas yang sejak Mei 2025 sudah beroperasi penuh dengan kapasitas 500.000 bibit per tahun. Ada juga Kebun Bibit Rakyat yang dibangun di tiga titik berbeda, masing-masing dikelola bersama warga setempat, masing-masing memproduksi 50.000 bibit per tahun.

Ini bukan sekadar soal pohon. Ini soal memastikan bahwa program itu tidak berhenti ketika satu periode berakhir.

Saya pikir itulah yang sering kita lewatkan ketika bicara soal konservasi. Kita terlalu sering berfokus pada momennya pada foto ceremonial, pada angka bibit yang disebutkan di siaran pers tapi tidak cukup bertanya siapa yang menjaganya setelah semua orang pulang? Di Kebun Bibit Rakyat, jawabannya adalah warga yang tinggal paling dekat dengan hutan itu sendiri. Ada lapangan kerja baru di sana. Ada pengetahuan yang berpindah tangan. Ada rasa memiliki yang tumbuh diam-diam.

Dari 2025 hingga 2031, Inalum menargetkan penanaman 1.000 hektar per tahun. Angka yang tidak kecil dan tidak murah. Tapi yang lebih penting dari angkanya adalah bahwa infrastruktur untuk mencapainya sudah dibangun, dan manusia-manusianya sudah ada di tempat.

Kalau saya mencoba memandang semuanya dari atas dari hulu Danau Toba yang sejuk hingga pesisir Batu Bara yang hangat saya melihat satu benang yang sama. Air hujan turun di pegunungan. Ia meresap ke tanah karena ada pohon-pohon yang menjaganya. Mengalir lewat sungai, melewati desa dan kota, dan akhirnya bermuara di laut di pesisir yang sama tempat mangrove itu berdiri. Kalau hulunya rusak, hiliir ikut rusak. Kalau hutan di atas gundul, sungai membawa lumpur ke bawah, dan mangrove pun perlahan ikut merana.

Dua program yang terlihat berbeda itu penghijauan di tujuh kabupaten di sekitar Danau Toba, dan konservasi mangrove di pesisir Batu Bara sebenarnya adalah satu upaya menjaga sistem yang sama. Dari hutan hingga pantai, dari hulu ke muara.

Dan di antara pohon-pohon itu, ada orang-orang yang hidupnya bergantung pada alam tersebut. Petani yang butuh air untuk sawahnya. Nelayan yang butuh ekosistem mangrove agar ikan tidak pergi. Ibu-ibu yang menjual kain batik bermotif daun mangrove kepada wisatawan. Anak-anak yang berlari di dermaga Batubara Mangrove Park sambil tidak tahu bahwa sepuluh tahun lalu, dermaga itu belum ada dan pantainya pun sudah hampir tidak ada yang peduli.

228.000 hektar lahan kritis tidak bisa dipulihkan dalam satu dekade. Dan 51.000 bibit mangrove, sebesar apapun artinya, belum cukup untuk menjawab semua kerusakan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Saya tidak mau menutup tulisan ini dengan optimisme yang terlalu mudah.

Tapi ada satu hal yang saya percaya: program yang benar-benar berjalan selalu bisa dibedakan dari yang hanya ada di atas kertas. Bukan dari siaran persnya, bukan dari angkanya yang besar, tapi dari ada tidaknya orang yang terus bergerak bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Azizi menanam mangrove bertahun-tahun sebelum ada yang peduli. Petani-petani di Kebun Bibit Rakyat merawat bibit durian dari pagi hingga sore, tanpa nama mereka disebut di mana pun. Warga di tujuh kabupaten menanam pohon yang mungkin baru akan mereka rasakan manfaatnya dua puluh tahun lagi.

Inalum, sebagai perusahaan yang telah mengambil air dari Danau Toba selama puluhan tahun untuk menghidupkan turbinnya, sedang dalam perjalanan panjang membayar kembali apa yang telah diambil bukan dengan uang, tapi dengan pohon, waktu, dan kemitraan yang tidak bisa selesai dalam satu periode laporan tahunan.

Perjalanan itu belum selesai. Tapi ia sudah dimulai. Dan kadang, itu sudah cukup untuk menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sebelum Laut Memakan Tanah

30 Juni 2026 - 15:08 WIB

Pemkab Asahan, Polres, dan PWI Main Bola Bareng, HUT Bhayangkara Jadi Ajang Perkuat Sinergi

29 Juni 2026 - 12:18 WIB

Bangun Kekompakan Jelang HUT Bhayangkara, Pemkab Asahan, Polres, dan PWI Asahan Adu Strategi di Lapangan Hijau

29 Juni 2026 - 12:14 WIB

Pemilik Akun Medsos Penyebar Hoaks Pimpinan DPRD Sumut Dipolisikan

29 Juni 2026 - 12:03 WIB

8 Lokasi Tambang Ilegal di Galang Resmi Ditutup

26 Juni 2026 - 19:15 WIB

Trending di News