Menu

Mode Gelap
Rekomendasi Sepatu Lari: Adizero Takumi Sen 11, Senjata Speed untuk Race dan Interval Sedimentasi Mengganjal, Bupati Batu Bara Turun Tangan Benahi Bendung Tanjung Muda Nilai 81,52 Bukan Angka Main-Main, Asahan Kantongi Opini Ombudsman Tanpa Maladministrasi Safari Ramadhan 1447 H, Pemkab Asahan Siap Keliling 104 Masjid dan Mushala Review 28 Years Later: Bone Temple, Eksplorasi Harapan di Dunia yang Hancur Naga Berkisar Siap Mendarat di Asahan, Bupati Taufik: Bukan Cuma Jaga Wilayah, Tapi Dongkrak Ekonomi

Entertainment

Review 28 Years Later: Bone Temple, Eksplorasi Harapan di Dunia yang Hancur

Avatarbadge-check


					Review 28 Years Later: Bone Temple, Eksplorasi Harapan di Dunia yang Hancur Perbesar

Desir.id – Medan | Ada fase dalam sebuah waralaba ketika ia berhenti sekadar ingin mengagetkan penonton, lalu mulai mengajak mereka merenung. Film terbaru dalam trilogi baru 28 Years ini terasa berdiri tepat di titik itu. Setelah film sebelumnya menutup cerita dengan kemunculan sosok misterius yang hanya diperlihatkan sepintas, ekspektasi penulis sederhana, bagaimana kelanjutan dunia yang sudah porak poranda itu akan berkembang. Jawabannya ternyata jauh lebih berani daripada dugaan awal.

Perubahan paling terasa justru datang dari balik layar. Kursi sutradara kini ditempati oleh Nia DaCosta, mengambil alih estafet dari Danny Boyle yang membangun fondasi atmosferik dan rasa putus asa khas seri ini di film-film sebelumnya. Pergantian ini sempat memunculkan kekhawatiran, terutama karena identitas visual dan emosional waralaba ini begitu lekat dengan pendekatan Boyle yang mentah dan intens. Namun DaCosta tidak berusaha menghapus jejak tersebut. Ia justru merawatnya, lalu menyuntikkan sensibilitasnya sendiri yang lebih reflektif dan psikologis. Transisinya terasa mulus, seolah dunia ini memang sedang bergerak menuju fase baru yang lebih kontemplatif.

Sosok Jimmy Crystal sudah di-establish sejak adegan flashback di pembuka film sebelumnya, lalu diperkuat oleh cliffhanger yang menggantung. Kali ini, sosok tersebut ditempatkan di pusat pusaran konflik. Ia adalah pemimpin sekte yang tumbuh subur di tengah masyarakat yang hancur, ketika trauma kolektif dan rasa kehilangan membuat banyak orang mencari pegangan baru. Di situlah film ini menemukan nadinya.

Pendekatan terhadap dinamika kultus digarap dengan detail yang terasa mengganggu sekaligus menggelikan. Cara para pengikutnya, yang menyebut diri mereka “Jimmies”, memuja figur ini, berbicara dengan nada seragam, hingga menormalisasi kekerasan atas nama keyakinan, menghadirkan potret yang terasa dekat dengan realitas. Ada absurditas yang secara ironis, cukup menggelikan. Karena di baliknya tersimpan gambaran tentang betapa mudahnya individu terlepas dari empati ketika berada dalam lingkaran fanatisme.

Jack O’Connell menghidupkan Jimmy Crystal dengan kharisma yang sulit diabaikan. Ia tampil meyakinkan sebagai figur yang mampu membuat orang percaya, sambil perlahan memanipulasi mereka tanpa ampun. Setelah sebelumnya mencuri perhatian sebagai antagonis di Sinners, di sini ia terasa lebih matang, lebih tenang, dan justru karena itu lebih berbahaya. Setiap adegan yang melibatkan Jimmy selalu menyimpan ketegangan yang tidak meledak, tetapi merayap.

Yang menarik, film ini tidak terjebak menjadikan sekte sebagai gimmick. Eksplorasi terhadap pola pikir kelompok ini berjalan seiring dengan tema yang lebih luas tentang iman dan cara manusia memaknai penderitaan berkepanjangan. Dunia dalam film ini sudah terlalu lama hidup berdampingan dengan wabah. Luka tidak lagi segar, tetapi membatu. Dalam situasi seperti itu, keyakinan bisa menjadi penopang, atau justru menjadi alat dominasi.

Di sisi lain, perspektif berbeda hadir melalui Dr. Kelson yang diperankan oleh Ralph Fiennes. Karakter ini memberi warna yang kontras dengan Jimmy. Jika Jimmy membangun kekuasaan lewat sugesti dan rasa takut, Kelson berdiri di jalur empati dan rasionalitas. Keputusan naskah untuk mempertemukannya dengan Alpha Zombie bernama Samson menjadi salah satu kejutan paling menyenangkan dalam film ini.

Hubungan antara Kelson dan Samson berkembang secara perlahan, bahkan intim dengan cara yang tak terduga untuk genre zombie. Alih alih sekadar memosisikan makhluk ini sebagai ancaman, film berani menyentuh kemungkinan adanya sisa kemanusiaan yang tertinggal. Transformasi Samson di babak akhir terasa sebagai buah dari interaksi tersebut, bukan sekadar twist murahan. Ada kepuasan emosional yang jarang penulis rasakan dalam film sejenis.

Salah satu momen paling liar muncul ketika Kelson membawakan lagu The Number of the Beast dari Iron Maiden. Adegan ini begitu nekat, hampir terasa seperti film lain yang menyelip di tengah cerita. Namun anehnya, ia menyatu dengan baik di babak ketiga. Perubahan tone tersebut justru menegaskan betapa film ini tidak takut bermain dengan batas konvensi.

Karakter Spike yang menjadi pusat cerita di film sebelumnya kini sedikit tersingkir. Awalnya penulis menduga ini akan menjadi kelemahan, namun fokus yang lebih tajam pada Jimmy dan Kelson membuat keputusan itu terasa logis. Film ini jelas ingin menimbang gagasan, bukan sekadar mengikuti satu pahlawan.

Dibandingkan pendahulunya, yang terasa seperti eksperimen untuk menghidupkan kembali semangat waralaba, instalasi terbaru ini tampil lebih percaya diri. Intensitas aksi memang tidak mendominasi. Pertarungan dan kekacauan tetap ada, tetapi bukan itu yang dikejar. Yang ditawarkan adalah perenungan tentang bagaimana masyarakat yang retak memaknai keselamatan, siapa yang mereka percayai, dan sejauh mana trauma bisa membentuk ulang moralitas.

Sebagai tontonan zombie, ia mungkin tidak memberikan ledakan adrenalin tanpa henti. Namun sebagai refleksi tentang iman, manipulasi, dan kebutuhan manusia akan makna di tengah kehancuran, film ini meninggalkan jejak yang lebih lama. Untuk sebuah sekuel dalam genre yang sering terjebak repetisi, film ini berhasil menjaga konsistensi untuk tetap relevan dengan keunikannya sendiri.

RATE: 9/10

Penulis: Arya Yudhistira Wicaksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Review Stranger Things 5, Ketika Final Season Kehilangan Nyali

1 Januari 2026 - 14:05 WIB

10 Film Pilihan Desir 2025

31 Desember 2025 - 23:56 WIB

Review IT: Welcome to Derry, Asal-Usul Pennywise dan Sejarah Kelam Kota Derry

28 Desember 2025 - 11:25 WIB

Review Rangga & Cinta: Perayaan Ikon yang Kurang Sempurna

11 Oktober 2025 - 09:46 WIB

Review Weapons (2025)

9 Agustus 2025 - 18:59 WIB

Trending di Entertainment