Menu

Mode Gelap
Peristiwa Pengeroyokan di Salapian, Indra : Sebelum Melaporkan Saya Sudah Berulang Kali Menawarkan Perdamaian Namun Ditolak Sabu Hampir 10 Gram di Simpang Gambus, ES Tak Bisa Lagi “Ngeles” Kasus Penganiayaan yang Dilakukan Betmen, Korban : Saya dan Pelaku Sudah Berdamai Galaxy Watch 5 vs Garmin Forerunner 265: Smartwatch Serbaguna atau Jam Lari Profesional? Review Na Willa: Hangatnya Masa Kecil dalam Bingkai Parenting yang Jujur Kabid Parawisata Sebut Wisata ke Pulau Salah Namo Tanpa SOP, Risiko Jadi Urusan Siapa?

Entertainment

Review Rangga & Cinta: Perayaan Ikon yang Kurang Sempurna

Avatarbadge-check


					Review Rangga & Cinta: Perayaan Ikon yang Kurang Sempurna Perbesar

Desir.id – Medan | Tidak bisa dipungkiri bahwa Ada Apa dengan Cinta? (2002) merupakan salah satu film paling ikonik dan berpengaruh dalam sejarah sinema Indonesia, sekaligus menjadi salah satu Intellectual Property (IP) milik Miles Films yang paling diingat, bersandingan dengan judul-judul besar lainnya seperti Laskar Pelangi (2008) dan Petualangan Sherina (2000). Jadi sangat bisa dimengerti bahwa upaya untuk memperkenalkan kembali kisah cinta Rangga dan Cinta kepada generasi yang lebih muda muncul melalui Rangga & Cinta (2025), sebuah karya yang digadang-gadang sebagai rebirth dari kisah yang begitu dicintai banyak penonton Indonesia. Namun apakah hasil akhirnya benar-benar mampu mempertahankan kelayakan status rebirth tersebut?

Sebagai sebuah proyek rebirth, film ini mengusung drama musikal sebagai genre utama, membedakannya dari film-film remake pada umumnya yang seringkali masih berkutat pada struktur karya asli dan enggan memberikan inovasi. Karena aspek itu saja sebenarnya film ini sudah sangat menjanjikan, tapi sayangnya musikal sebagai genre yang spesifik justru tidak dimanfaatkan secara maksimal. Ekspektasi penulis yang awalnya berpikir banyak adegan ikonik dari versi asli akan dimusikalisasi ternyata tidak terpenuhi karena kurangnya keseimbangan antara adegan musikal dan dialog.

Paruh pertama film memang dibuka dengan sekuens musikal “Kubahagia” yang terasa segar, didukung oleh koreografi yang menyenangkan sekaligus memberikan pondasi awal yang kuat bagi filmnya. Namun, sekuens tersebut kemudian diikuti oleh sejumlah adegan yang masih terlalu bergantung pada kesan nostalgia yang muncul melalui proses reka ulang dari karya aslinya. Ketidakseimbangan antara adegan musikal dan dialog yang telah disebutkan juga berimbas pada penyajian musikalisasi yang seharusnya bisa lebih rapi, karena beberapa di antaranya justru terasa canggung dengan transisi antaradegan yang tampak malas. Salah satu contoh paling jelas terdapat pada adegan musikal “Truly, Madly, Deeply Hate You” yang serba nanggung dan tidak bertenaga.

Tapi, jika beralih ke aspek lain, untungnya jajaran pemeran di film ini dapat dikatakan cukup maksimal dalam memerankan setiap karakter dengan keseimbangan antara familiaritas dan kebaruan. Geng Cinta digambarkan dengan energi yang sama hidupnya, menghadirkan persahabatan yang hangat, setia dan penuh kasih. Di antara mereka, Milly yang diperankan oleh Katyana Mawira menonjol lewat kepolosannya yang menggemaskan seperti versi aslinya, sementara Alya versi Jasmine Nadya tetap terasa tragis dan penuh empati.

Untuk karakter utamanya, Leya Princy sebagai Cinta berhasil tampil seimbang dengan versi aslinya yang ekspresif dan penuh pemikiran. Sementara itu, El Putra Sarira menghadirkan versi Rangga yang paling ideal. Ia tetap introvert dan sering larut dalam pikirannya sendiri, tetapi tidak lagi terasa menyebalkan seperti di film terdahulu. Beberapa adegan baru maupun perubahan skenario turut memperlihatkan sisi Rangga yang benar-benar pendiam, lembut, dan sopan. Karena sikap karakternya yang kini terasa lebih dewasa, chemistry-nya dengan Cinta pun tampak manis dan alami, tumbuh dengan cara yang membuat hubungan mereka terasa ringan sekaligus menggemaskan. Kemampuan vokal El Putra Sarira yang mumpuni dalam membawakan lagu “Tentang Seseorang” dan “Suara Hati Seorang Kekasih” juga menjadi salah satu momen terbaik di sepanjang film.

Beralih pada aspek urgensi, sebenarnya tidak pernah ada momen yang menjustifikasi pentingnya film ini untuk dibuat (selain untuk alasan nostalgia tentunya). Pun seharusnya, penulis sempat beranggapan bahwa sebaiknya proyek rebirth ini dibuat dengan latar kontemporer saja agar bisa lebih relevan dan sesuai dengan iklim penonton Gen Z. Tapi di sisi lain, beberapa kelebihan film ini tetap berhasil memberikan pembeda menarik yang sama sekali baru dan tidak ada di versi aslinya. Untuk ini, sepertinya memang kesalahan marketing dari Miles Films sendiri yang harusnya sedari awal mem-branding film ini cukup sebagai bentuk perayaan dan penghormatan untuk salah satu proyek mereka yang paling membekas di hati penonton. Dengan begitu, film ini bisa berfungsi sebagai alternatif menarik dari versi aslinya yang menawarkan konsep-konsep unik dan menarik, bukan sebagai rebirth yang jelas kurang matang maupun musikal yang malu-malu.

RATE: 7/10

Penulis: Arya Yudhistira Wicaksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Review Na Willa: Hangatnya Masa Kecil dalam Bingkai Parenting yang Jujur

27 Maret 2026 - 17:45 WIB

Review Good Luck, Have Fun, Don’t Die: Ambisi Satir AI Setengah Matang

14 Maret 2026 - 13:35 WIB

Review Iron Lung: Ketegangan Klaustrofobik di Dunia yang Tak Kenal Ampun

14 Maret 2026 - 12:00 WIB

Dari Kuli Pasar ke Bos Konstruksi, Indra Setiawan Buktikan Sukses Itu Bukan Warisan

3 Maret 2026 - 20:56 WIB

Review Return to Silent Hill: Adaptasi Akurat atau Mengarang Bebas?

27 Februari 2026 - 08:05 WIB

Trending di Entertainment