Menu

Mode Gelap
Harga Semen Sumut Naik 25–40 Persen , KPPU Dalami Sebabnya  Bank Indonesia Buka Panggung UMKM, Rp6,4 Miliar Transaksi Tercatat di Tao Toba Joujou Bank Indonesia Buka Panggung UMKM, Rp6,4 Miliar Transaksi Tercatat di Tao Toba Joujou Baru Grand Opening, Bingchun Tanjung Morawa Langsung Punya 5 Franchise Baru! Polresta Deli Serdang Musnahkan 1,2 Kilogram Sabu, Berhasil Ungkap 48 Kasus Narkoba PANGERAN Desak APH Usut Dugaan Alih Fungsi Lahan Sawah Dilindungi di Batu Bara, Pemkab Dinilai Tutup Mata

News

The Bloom Project Gelar FGD Mitigasi Bencana dan Perubahan Iklim di Medan

Avatarbadge-check


					The Bloom Project Gelar FGD Mitigasi Bencana dan Perubahan Iklim di Medan Perbesar

Desir.id — Medan | Komunitas Seabolga melalui The Bloom Project menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Lintas Agama bertajuk “Harmoni untuk Bumi”. Mengusung tema “Safe and Climate Resilient Shelters in Medan 2026”, forum ini membahas isu perubahan iklim dan kebencanaan, serta pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, di Aula Jabal Nur Asrama Haji Medan, Sabtu (07/03/2026).

The Bloom Project merupakan salah satu partisipan dalam program Harmony in Action yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation dan Temasek Foundation. Program ini bertujuan menjadi wadah berbagi pengalaman, memperkuat kolaborasi lintas agama, serta mendorong langkah bersama membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Salah satu narasumber, Muhammad Yamin Daulay, SE selaku Ketua Tim Kerja Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, mengatakan Indonesia, termasuk wilayah Sumatra, merupakan kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana cukup tinggi. Salah satu penyebab meningkatnya bencana adalah cuaca ekstrem yang dipicu oleh perubahan iklim.

“Dan ini menjadi tantangan terbesar karena belum tersampainya edukasi dan sosialisasi terhadap masyarakat. Hanya sebatas himbauan, tapi bagaimana melakukan kesiapsiagaan belum masif dilakukan pada masyarakat,” tuturnya.

Daulay juga menyampaikan pentingnya keterlibatan masyarakat dari berbagai elemen dalam upaya mitigasi bencana. “Kita memerlukan sinergi bersama antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan juga media. Masyarakat harus memiliki budaya atau kesadaran dan peduli terhadap bencana. Minimal sesederhana mungkin untuk menjaga lingkungan dan keseimbangan lingkungan kita,” ujarnya.

Forum ini melibatkan para peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti perwakilan lintas agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu), tokoh perempuan dan pemuda, perwakilan organisasi masyarakat sipil, serta pemangku kepentingan. Dalam sesi diskusi, peserta menyoroti peningkatan literasi kebencanaan serta pemanfaatan rumah ibadah yang dapat difungsikan sebagai tempat perlindungan sementara saat bencana terjadi.

Salah satu peserta, Hadonia Lazarus Manurung dari Komunitas Setara Berdaya, menilai kegiatan ini sangat penting dalam menyatukan berbagai perspektif. “Dapat membantu untuk merumuskan situasi yang ideal, apalagi dalam upaya mitigasi dan adaptasi bencana,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harga Semen Sumut Naik 25–40 Persen , KPPU Dalami Sebabnya 

11 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Bank Indonesia Buka Panggung UMKM, Rp6,4 Miliar Transaksi Tercatat di Tao Toba Joujou

8 Agustus 2026 - 23:43 WIB

Bank Indonesia Buka Panggung UMKM, Rp6,4 Miliar Transaksi Tercatat di Tao Toba Joujou

8 Agustus 2026 - 23:31 WIB

Baru Grand Opening, Bingchun Tanjung Morawa Langsung Punya 5 Franchise Baru!

8 Agustus 2026 - 22:11 WIB

Polresta Deli Serdang Musnahkan 1,2 Kilogram Sabu, Berhasil Ungkap 48 Kasus Narkoba

8 Agustus 2026 - 09:52 WIB

Trending di News